CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Hari Batik Nasional 2023, Simak Sejarahnya!

Nurrani Rusmana
2 Oktober 2023
Hari Batik Nasional 2023, Simak Sejarahnya!

Ilustrasi batik. (Foto: Freepik)

Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM – Pada tanggal 2 Oktober 2009 batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan oleh UNESCO. Penetapan ini dilakukan secara resmi pada sidang UNESCO yang dilaksanakan di Abu Dhabi. Hal ini tentu saja membanggakan bangsa Indonesia karena sebelumnya batik pernah diklaim oleh negara tetangga. 2 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Dilansir dari http://kebudayaan.kemdikbud.go.id, batik sendiri memiliki sejarah yang cukup Panjang sebelum ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7.

Pada awalnya batik merupakan kesenian gambar di atas kain yang dikhususkan untuk pakaian keluarga raja. Karenanya, batik terbatas beredar hanya di kalangan keraton Jawa.

Batik Miliki Hubungan Erat dengan Tokoh Pergerakan Nasional

Sementara itu, pada masa pergerakan nasional, batik memiliki kaitan yang erat. Batik pun memiliki hubungan erat dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional bangsa Indonesia seperti H. Samanhudi dan Kartini. Pada 1911 H. Samanhudi, seorang pedagang batik dari Laweyan, Surakarta, mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam.

Baca juga:   Hari Batik Nasional, Saatnya Kuatkan Cinta pada Budaya Bangsa

Organisasi ini bertujuan untuk memperkuat persatuan para pedagang batik pribumi dari persaingan dengan pedagang Cina yang menjadi agen dalam menjual bahan-bahan batik. Dalam perjalanannya, Sarekat Dagang Islam pada akhirnya berganti nama menjadi Sarekat Islam.

Kampung batik Laweyan pun memiliki peran yang penting dalam masa pergerakan nasional. Sejak Sarekat Dagang Islam didirikan di Laweyan, pengaruhnya mulai menyebar ke beberapa wilayah di Hindia Belanda. Banyak tokoh-tokoh dari Laweyan yang kemudian bergerak ke luar daerah untuk berpolitik seperti H. Amir yang berperan dalam pembentukan afdeling SDI di Bandung.

Baca juga:   Abinawa Ka’endahan by Danar Hadi : Menyatukan Tradisi dan Elegansi Modern

Tiga serangkai Kartini, Roekmini, dan Kardinah kerap kali menggunakan kebaya putih dan sarung batik buatan sendiri. Menurut Pramoedya Ananta Toer, Kartini mulai mengenal seni batik sejak usia 12 tahun, ketika ia sudah meninggalkan bangku sekolah dan masuk ke ruang pingitan.

Dia belajar pada seorang pekerja tetap di kadipaten yang bernama Mbok Dullah. Suatu waktu, Kartini pernah menghadiahkan sarung batik karya-tangannya sendiri kepada Nyonya Abendanon, istri Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda.

Kardinah adik Kartini pun memiliki peran sendiri dalam dunia batik. Kardinah yang menikah dengan Bupati Tegal, memiliki andil dalam perubahan corak dan motif dalam batik khas Tegal. Kebanggaan itulah yang kemudian ditularkan kepada masyarakat Tegal lewat sekolah Wismo Pranowo. Upaya Kardinah dalam memperkenalkan hasil karya batik anak-anak didiknya bukan saja untuk dipakai sendiri, tetapi juga untuk dipamerkan.

Baca juga:   Pemkab Bandung Gelar Pelatihan Seni Membatik Motif Kina

Pelajar STOVIA Kenakan Batik Sebagai Seragam

Tidak hanya itu, para pelajar STOVIA dahulu saat sekolah menggunakan batik sebagai seragamnya. Sebelum memakai baju jas putih seperti baju orang Belanda, mereka terlebih dahulu menggunakan kain jarik bermotif batik yang dipadukan dengan baju putih. Biasanya pelajar STOVIA yang memakai kain jarik ini adalah pelajar yang berasal dari Pulau Jawa. Selain memakai kain jarik, mereka juga memakai blangkon di kepalanya.

Batik tidak hanya menjadi warisan tak ternilai bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi representasi kultur bangsa Indonesia. Terdapat banyak ragam motif batik di Indonesia yang disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Sejarah panjang batik dari sejak zaman kerajaan hingga saat ini membuat batik pun mengalami banyak perkembangan. Di masa kini, batik juga menjadi telah menjadi identitas sendiri bagi bangsa Indonesia. (*/ran)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Nurrani Rusmana
Tags: batikhari batik nasionalHBN 2023sejarah batik


Related Posts

Abinawa Ka’endahan by Danar Hadi : Menyatukan Tradisi dan Elegansi Modern
PASBISNIS

Abinawa Ka’endahan by Danar Hadi : Menyatukan Tradisi dan Elegansi Modern

12 Desember 2024
Pemkab Bandung Gelar Pelatihan Seni Membatik Motif Kina
PASBANDUNG

Pemkab Bandung Gelar Pelatihan Seni Membatik Motif Kina

6 Oktober 2023
Museum Batik Indonesia Diresmikan di Hari Batik Nasional 2023
PASBUDAYA

Museum Batik Indonesia Diresmikan di Hari Batik Nasional 2023

2 Oktober 2023

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.