BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Peningkatan kasus flu dan batuk yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Menjawab keresahan tersebut, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menggelar webinar bertajuk “Kupas Tuntas Tentang Peningkatan Flu dan Batuk dengan Pakar” pada Sabtu (25/10/2025).
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom ini menghadirkan dua pakar paru nasional, yakni Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K) dan dr. Helena Pakiding, Sp.P, dengan Dr. dr. Rosamarlina, Sp.P(K) sebagai moderator.
Peningkatan Signifikan Kasus Influenza dan ISPA
Dalam pemaparannya, Prof. Erlina menjelaskan bahwa kasus influenza-like illness (ILI) meningkat hingga 74% pada Agustus dibandingkan Juli 2025. Sementara positivity rate influenza naik dari 26% menjadi 28%, dengan Bali mencatat angka tertinggi mencapai 100%.
“Jenis influenza yang paling dominan saat ini adalah Influenza A (H3N2), mencakup sekitar 70% dari total kasus,” ungkap Prof. Erlina.
Ia juga menambahkan, data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 1.966.308 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Selain itu, kasus positif COVID-19 mengalami kenaikan dari 1% menjadi 3% pada minggu ketiga Oktober.
Prof. Erlina mengingatkan bahwa gejala flu, ISPA, dan COVID-19 sering kali mirip, meliputi demam tinggi, batuk kering, sakit tenggorokan, nyeri otot, hingga kelelahan. Namun, ia menekankan pentingnya mengenali faktor risiko seperti usia lanjut, anak-anak, perokok, dan individu dengan penyakit kronis.
“Infeksi saluran napas bersifat sangat menular. Jangan abai, jaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jika mengalami gejala berat seperti sesak napas atau nyeri dada, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” pesan Prof. Erlina Burhan.
Pentingnya Vaksinasi dan Gaya Hidup Sehat
Sementara itu, dr. Helena Pakiding menyoroti bahwa flu bukan sekadar penyakit ringan. Berdasarkan data WHO, influenza menyebabkan 3–5 juta kasus berat dan sekitar 650 ribu kematian setiap tahun di dunia.
“Negara tetangga seperti Malaysia bahkan sempat menutup beberapa sekolah akibat lonjakan kasus flu. Indonesia harus waspada, tetapi tidak panik,” jelas dr. Helena.
Ia menekankan bahwa sebagian besar kasus dapat sembuh dengan istirahat, cairan cukup, dan pengobatan simptomatik. Namun untuk kelompok berisiko tinggi, terapi antivirus seperti oseltamivir atau favipiravir bisa diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.
“Jika flu, tetaplah di rumah, gunakan masker, dan istirahat cukup agar tidak menulari orang lain. Dan jangan ragu untuk vaksinasi, terutama bagi lansia dan mereka yang punya penyakit kronis,” ujar dr. Helena Pakiding.
Masyarakat Didorong Aktif dalam Pencegahan
Webinar yang diikuti ratusan peserta ini menjadi ajang edukasi penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan flu biasa, ISPA, dan COVID-19, serta langkah antisipatif yang bisa dilakukan di tengah meningkatnya kasus pernapasan.
Para narasumber sepakat bahwa kunci utama pengendalian penyakit ini terletak pada kesadaran masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat, menjaga kebersihan, serta mengikuti vaksinasi influenza secara berkala.
“Flu dan ISPA bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu disikapi dengan bijak. Edukasi yang berkelanjutan dan kepedulian bersama akan menjadi benteng utama dalam melindungi kesehatan masyarakat,” tutup Prof. Erlina Burhan. (tiwi)







