BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Seorang pasien yang diduga terpapar influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal sebagai super flu dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Hingga kini, pihak rumah sakit masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kematian pasien tersebut.
Pihak RSHS mencatat telah menangani sedikitnya 10 pasien dengan gejala super flu sejak Agustus hingga Oktober 2025. Dari jumlah tersebut, dua pasien mengalami kondisi berat sehingga harus mendapatkan perawatan intensif.
Satu pasien dirawat di ruang high care, sementara satu pasien lainnya menjalani perawatan di ruang intensif atau ICU.
Pasien yang dirawat di ICU tersebut kemudian dinyatakan meninggal dunia. Namun, manajemen RSHS menegaskan bahwa hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah kematian pasien secara langsung disebabkan oleh paparan super flu.
Pasien Memiliki Penyakit Bawaan
Dokter Spesialis Paru sekaligus anggota Tim PINERE RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa pasien diketahui memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang cukup berat. Kondisi tersebut dinilai turut memperburuk keadaan kesehatan pasien selama menjalani perawatan.
“Kami masih melakukan evaluasi menyeluruh. Pasien memang terdiagnosis dengan influenza A H3N2 subclade K, namun juga memiliki komorbid berat yang sangat memengaruhi kondisi klinisnya. Jadi belum bisa disimpulkan bahwa penyebab kematian murni karena super flu,” ujar dr Yovita.
Ia menambahkan, secara umum super flu tidak memiliki tingkat keganasan seperti COVID-19. Meski demikian, kelompok rentan seperti lansia, pasien dengan penyakit kronis, serta mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.
Pihak RSHS pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap gejala flu berat seperti demam tinggi, sesak napas, dan penurunan kondisi fisik secara drastis.
Masyarakat juga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan berat.
“Pencegahan tetap menjadi kunci, mulai dari menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, serta menggunakan masker jika sedang sakit,” pungkas dr Yovita. (uby)







