WWW.PASJABAR.COM – Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Arsad Hidayat menyampaikan bahwa secara perhitungan hisab, posisi hilal pada akhir Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Hal tersebut disampaikan Arsad dalam press briefing di Jakarta, Senin (9/3/2026), dilansir dari ANTARA. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan astronomi, ketinggian hilal di wilayah Indonesia berada pada kisaran 0 hingga 3 derajat. Dengan posisi tertinggi berada di wilayah Aceh.
“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal itu sekitar 0 sampai 3 derajat dan yang tertinggi berada di wilayah Aceh. Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat,” ujar Arsad.
Menurutnya, standar visibilitas hilal yang digunakan oleh negara-negara MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Meskipun dari sisi ketinggian ada kemungkinan mendekati batas minimal, namun dari aspek elongasi masih belum mencapai standar yang ditetapkan.
Potensi Perbedaan Penetapan Idul Fitri
Dengan kondisi tersebut, Arsad menyebutkan bahwa terdapat kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah antara pemerintah dan organisasi Islam Muhammadiyah, sebagaimana yang terjadi pada penentuan awal Ramadan tahun ini.
“Kalau kriteria imkan rukyat versi MABIMS itu elongasinya minimal 6,4 derajat. Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS, memang masih belum memungkinkan untuk bisa dilihat,” katanya.
Meski demikian, Arsad menegaskan bahwa kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri tetap akan diputuskan melalui sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama.
“Keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memprakirakan adanya kemungkinan perbedaan tanggal Lebaran antara pemerintah dan Muhammadiyah.
Muhammadiyah sendiri telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Adapun pemerintah yang menggunakan metode hisab dan rukyat dengan standar MABIMS memprakirakan posisi hilal pada saat Maghrib, 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria visibilitas. Dengan demikian, 1 Syawal berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Meski berbagai prediksi telah muncul, masyarakat tetap diminta menunggu pengumuman resmi pemerintah melalui sidang isbat untuk memastikan kapan tepatnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah akan dirayakan secara nasional. (han)







