WWW.PASJABAR.COM – Peralihan dari masa berpuasa selama Ramadan menuju momen bersantap saat Lebaran perlu dikelola dengan baik agar tidak memicu berbagai gangguan kesehatan. Hal tersebut disampaikan anggota Herbalife Nutrition Advisory Board, Rimbawan.
Menurut Rimbawan, setelah menjalani ibadah puasa selama sekitar satu bulan, banyak orang cenderung langsung kembali pada pola makan sebelumnya bahkan dalam jumlah berlebihan. Kondisi ini dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.
“Peralihan dari berpuasa ke bersantap dapat menjadi tantangan bagi kesehatan kita. Setelah mengakhiri puasa, banyak orang segera kembali pada kebiasaan makan sebelumnya, bahkan secara berlebihan seperti makan terlalu banyak serta mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam,” ujar Rimbawan dalam keterangan di Jakarta, Senin (16/3/2026), dilansir dari ANTARA.
Ia menjelaskan bahwa sistem pencernaan yang telah beradaptasi dengan pola makan selama Ramadan belum tentu siap untuk langsung menerima makanan berat yang tinggi lemak dan gula.
Jika tidak diatur dengan baik, kondisi ini berpotensi memicu gangguan pencernaan seperti diare serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
Beberapa penyakit yang dapat muncul akibat pola makan tidak terkontrol setelah Ramadan antara lain Obesitas, Hipertensi, dan Penyakit jantung. Bahkan, perubahan pola makan yang drastis juga dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti Diabetes.
Ubah Pola Makan Secara Bertahap
Rimbawan menyarankan masyarakat untuk kembali mengatur pola makan secara bertahap setelah Ramadan dengan tetap memperhatikan keseimbangan gizi. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya terdiri dari sayur, buah, karbohidrat, lemak sehat, serta protein yang cukup.
Ia menambahkan bahwa asupan protein memiliki peran penting dalam membantu memperbaiki jaringan tubuh, mengatur nafsu makan, serta menjaga kesehatan otot.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk tetap aktif secara fisik. Misalnya dengan berjalan kaki atau melakukan olahraga ringan selama masa libur Lebaran.
Selain menjaga pola makan, masyarakat juga perlu memperhatikan hidrasi tubuh dengan minum air putih yang cukup, menjaga kualitas tidur, serta mengelola stres dengan baik.
Beberapa nutrisi seperti asam lemak omega-3, vitamin D, antioksidan, serta protein yang mengandung asam amino triptofan juga dinilai dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Rimbawan juga mengakui bahwa salah satu tantangan saat Lebaran adalah sulit menolak hidangan dari kerabat yang umumnya tinggi lemak dan gula.
Untuk mengatasinya, masyarakat dapat menyampaikan secara sopan bahwa mereka sedang menjaga kesehatan. Atau memilih menu yang lebih ringan seperti buah apabila tersedia.
“Pertahankan gaya hidup sehat dan nikmati Lebaran secara seimbang untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Gaya hidup sehat juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup serta membuat kita lebih produktif,” kata Rimbawan. (han)







