# anggaran madrasah
JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM — Sebuah langkah besar tengah disiapkan pemerintah melalui Kementerian Agama.
Seperti dikutip dari laman resmi kementrian agama, Minggu (5/4/2026) disebutkan, di balik angka fantastis Rp24,8 triliun yang diusulkan, tersimpan rencana besar yang tak hanya soal angka.
Tetapi juga menyangkut masa depan jutaan pelajar di Indonesia—khususnya mereka yang berada di madrasah dan sekolah keagamaan.
Usulan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam Rapat Tingkat Menteri Bidang Pendidikan bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Namun, yang menarik bukan sekadar jumlahnya, melainkan arah besar kebijakan yang mulai terlihat: menyetarakan pendidikan keagamaan dengan sekolah umum.
Misi Besar di Balik Angka Triliunan
Jika selama ini madrasah sering dipandang “berbeda” dari sekolah umum, kini pemerintah tampaknya ingin menghapus garis pemisah tersebut.
Usulan anggaran ini disebut sebagai langkah strategis untuk memastikan tidak ada lagi ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia.
Menag menegaskan bahwa pendidikan keagamaan harus berjalan seiring dengan visi besar nasional.
Dalam konteks ini, madrasah dan sekolah keagamaan bukan lagi pelengkap, melainkan bagian penting dalam mencetak generasi unggul.
Namun, benarkah anggaran besar ini akan mampu menjawab persoalan lama?
Ribuan Sekolah Akan “Disulap”
Salah satu fokus utama dalam usulan ini adalah revitalisasi besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 7.131 lembaga pendidikan menjadi target perbaikan.
Rinciannya cukup mencengangkan:
- 6.973 madrasah
- 128 sekolah Kristen
- 13 sekolah Katolik
- 9 sekolah Hindu
- 8 sekolah Buddha
Dengan total anggaran mencapai Rp13,7 triliun, pemerintah ingin memperbaiki wajah pendidikan keagamaan yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas.
Banyak madrasah di daerah yang masih memiliki sarana minim. Kondisi ini bukan hanya soal kenyamanan belajar, tetapi juga menyangkut kualitas pendidikan itu sendiri.
Digitalisasi: Lompatan atau Tantangan Baru?
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menyiapkan Rp10,9 triliun untuk digitalisasi pembelajaran. Ini menjadi langkah penting di tengah tuntutan era teknologi.
Namun, muncul pertanyaan menarik: apakah semua madrasah siap dengan transformasi digital?
Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Di sisi lain, kesenjangan akses teknologi di berbagai daerah bisa menjadi tantangan baru yang tidak kalah serius.
Program Makan Gratis yang Belum Merata
Hal lain yang menjadi sorotan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, jangkauannya di madrasah dan pesantren masih berada di angka 10–12 persen.
Bandingkan dengan sekolah umum yang diproyeksikan mencapai 80 persen—perbedaan ini cukup mencolok.
Padahal, menurut Menag, santri dan siswa madrasah justru termasuk kelompok yang sangat membutuhkan program tersebut. Menariknya, pondok pesantren dinilai memiliki sistem yang lebih siap dalam menjalankan program makan bersama, bahkan disebut minim risiko kesehatan.
Apakah ini berarti pesantren bisa menjadi model nasional?
Usulan Rp24,8 triliun ini bukan sekadar soal dana, tetapi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai memberi perhatian lebih serius pada pendidikan keagamaan.
Di tengah upaya membangun sumber daya manusia unggul, langkah ini bisa menjadi titik balik—atau justru ujian besar dalam implementasinya.(*/tie)
# anggaran madrasah







