KAB BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Jagat media sosial kembali diramaikan dengan polemik menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Kamis (9/4/2026) pagi, ratusan siswa SMP di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengembalikan menu MBG ke dapur SPPG karena diduga sudah bau dan basi. Akibat kejadian ini, operasional dapur SPPG setempat pun dihentikan sementara untuk evaluasi.
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Dayeuhkolot, tepatnya di sekitar SMP Negeri 1 Dayeuhkolot. Bukannya menyambut antusias pembagian makanan gratis, para siswa justru beramai-ramai membawa kembali omprengan berisi menu MBG ke dapur penyedia.
Menu Diduga Basi, Distribusi Dihentikan
Tidak hanya siswa, sejumlah guru hingga aparat kewilayahan turut mendatangi dapur SPPG yang berada di sekitar sekolah. Aparat dari unsur kecamatan hingga Kapolsek Dayeuhkolot, Triyono, turun langsung melakukan pengecekan di lokasi.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa makanan yang didistribusikan memang tidak layak konsumsi karena mengeluarkan bau tidak sedap. Aparat pun langsung memberikan teguran kepada pengelola dapur SPPG.
Kepala SPPG Citeureup–Dayeuhkolot, Putra Angga, melalui pernyataan di media sosial menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian yang terjadi.
“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat atas kegaduhan yang terjadi sehingga menimbulkan keramaian di sosial media. Kami menyadari bahwa hal tersebut telah mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Untuk itu kami bertanggung jawab penuh dan berkomitmen untuk segera melakukan perbaikan serta penanganan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujar Angga dalam video klarifikasi.
Ia memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari tata kelola hingga proses penyajian makanan agar sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Peristiwa yang terjadi pada 7 April 2026 ini sempat viral di media sosial. Beruntung, seluruh makanan yang didistribusikan kepada sekitar 1.200 penerima manfaat belum sempat dikonsumsi, sehingga tidak menimbulkan kasus keracunan.
Pihak terkait kini memastikan perbaikan sistem distribusi dan kualitas makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. (ctk)






