CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Hanna Hanifah
13 Januari 2025
keadilan sosial

ilustrasi. (foto: Good News)

Share on FacebookShare on Twitter
Prof Didi Turmudzi
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Oleh: Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si, Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan (Keadilan Sosial)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Telah dibuktikan oleh Arrow, seorang ekonom dan matematikus yang memperoleh hadiah Nobel, bahwa kalau kita tetap percaya pada model manusia homo economicus dan teori kepuasan dalam teori ekonomi saat ini, kesejahteraan dan keadilan sosial itu pasti tidak ada!

Mengapa para ekonom kurang mau jujur? Mungkin saja, kalau mereka lakukan bisa saja terjadi karirnya tidak berkembang atau jangan-jangan mengalami nasib malang.

Karena itulah sebenarnya para ekonom paling takut berbicara tentang kesejahteraan atau keadilan sosial, karena itu mereka lebih senang menggunakan kata pemerataan, suatu terminologi statistik yang bisa diukur dengan Gini Rasio. Apa itu Gini Rasio? Ya, itulah kemerataan! Tidak, secara fenomenal filosofis, Gini Rasio tidak ada hubungannya dengan keadilan Sosial!

Sebenarnya para ekonom telah mempunyai suatu model untuk menunjukan apa itu arti keadilan dalam bentuk kesetimbangan Pareto, tapi mereka tidak mau mengaku bahwa homo economicus mustahil bisa mencapai kesetimbangan Pareto, kecuai melalui asumsi masyarakat bersaing sempurna.

Baca juga:   SMK Pasundan 2 Kota Bandung Syukuran Milangkala ke-52

Sebenarnya terjadinya Kesetimbangan Pareto hanya mungkin, tanpa loncatan logika dan asumsi yang kurang tepat, kalau manusia itu mendekati model ideal manusia kreatif. Mustahil manusia homo economicus yang mengejar kepuasan pribadi tanpa dalam kesetimbangan Pareto.

Homo Economicus berkejar-kejaran mencari pangkat, mencari harta, tanpa mengindahkan moral. Mereka hanya tunduk pada kekuasaan fisik dalam arti power. Karena itulah mereka berlomba-lomba mencari power. Itulah hakekat dialektika sosial yang kita hadapi dewasa ini. Dalam masyarakat seperti itu bukan kesetimbangan Pareto yang terjadi melainkan kepincangan martabat, yakni bahwa pendapatan seseorang tidak dikaitkan dengan prestasinya, melainkan dengan kekuasaan yang dimilikinya.

Karena itu keadilan sosial hanya bisa dimengerti kalau dikaitkan dengan manusia beragama, manusia kreatif  yang  menjadikan  Al-Fatihah  sebagai  pelita hatinya. Semuanya itu berproses pada adanya manusia pembangunan, tipe manusia untuk Pancasila.

Baca juga:   Pemain Persib Latihan Memanah, untuk Apa?

Sekali lagi dimana pertanggungjawaban moral para ilmuwan, para akademisi terhadap ideologi bangsanya.

Pancasila

Mari kita cermati bahwa setelah reformasi di tahun 1998 telah terjadi De-Ideologisasi Pancasila. Kedudukan Pancasila dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara dipertanyakan.

Pancasila adalah pandangan hidup (way of life) sekaligus Dasar Negara (secara teori). Setelah 79 tahun kita merdeka, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila masih bersifat laten dan belum manifest dalam kehidupan keseharian rakyat dan masyarakat Indonesia.

Pancasila sebagai ideologi merupakan sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah) yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut baik untuk mempertahankan atau menyebarkannya.

Pancasila sebagai ideologi tidak berkehendak melepaskan agama dari kehidupan negara. Pancasila menolak sekularisme dan pada saat yang sama menerima kehadiran seluruh agama yang diakui sebagai rujukan kebaikan dan kebenaran tanpa pemahaman yang utuh dari salah satu agama manapun.

Baca juga:   Pastv : Dishub Sidak Kelayakan Bus Mudik

Republik Indonesia menolak negara sekuler dan negara agama sekaligus, Pancasila selalu didefinisikan sebagai landasan dari sebuah negara yang bukan negara agama dan bukan negara sekuler.

Pancasila adalah sebagai seperangkat nilai yang tepat dan baik bagi bangsa ini. Jika ideologi mempersyaratkan adanya tujuan, adanya nilai yang menjadi rujukan, adanya metodologi. Maka kehadiran metodologi sebuah kebutuhan dan keharusan bagi bangsa ini. Oleh karena itu pemerintah hendaknya segera melahirkan metodenya, untuk disosialisasikan, dicelupkan kepada berbagai lapisan masyarakat.

Para ilmuwan, akademisi dituntut untuk melahirkan interprestasi-interprestasi sebagai wujud pertanggung jawaban moral terhadap ikrar bangsanya, yaitu ”Pancasila”. Betapa kecewanya kita karena susah untuk menemukan tulisan-tulisan yang bertema ”Pertanggungan Jawab Sosial Ilmuwan”. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: keadilan sosialOpiniPancasilapasundan


Related Posts

sppg
HEADLINE

SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian

30 April 2026
protein dalam makanan
HEADLINE

Protein dalam Makanan

30 April 2026
pongah
HEADLINE

Pongah dan Ilusi Ketinggian Diri

28 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.