# Ketika Mimpi Ditemukan
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Tak semua anak lahir dengan jalan hidup yang mudah. Sebagian harus menapak dengan luka, menantang kenyataan demi impian yang terus dihidupkan. Dunyi adalah salah satunya.
Lahir di keluarga petani sederhana di Cianjur, Dunyi tumbuh tanpa jaminan masa depan yang pasti. Di keluarganya, tak ada yang lulus SD. Tapi ia berbeda. Ia memilih bertahan di sekolah, menyelesaikan SMA di Bandung sambil mondok di pesantren, dengan harapan: bisa kuliah.
Namun hidup tak serta-merta memberi jalan. Setelah lulus SMA, ia harus berhenti, karena tidak ada biaya. Tapi dalam diam, Dunyi menyimpan satu tekad—ia harus kuliah.
Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dari Arcamanik hingga Jakarta Barat, dijalani demi satu hal: tabungan harapan.
“Sambil bekerja, aku aktif mencari informasi beasiswa, belajar daftar sendiri secara online, mencoba segala kemungkinan. Sampai akhirnya, diterima di UNISAL melalui jalur beasiswa KIP Kuliah,” ungkapnya.
Kini, Dunyi kuliah sambil magang
Dulu ia pernah menjadi sales HP, penjaga toko jam, hingga admin toko kue.
“Apa pun dikerjakan, asalkan bisa terus melangkah,” terangnya.
Di balik semua itu, ada dunia yang ia jaga diam-diam: dunia menulis. Ia menulis sejak SMA, bukan untuk dibaca orang lain, tapi sebagai pelarian—tempat aman untuk bercerita saat tidak ada yang bisa mendengar.
Lewat tulisan, ia menyembuhkan diri, menyusun ulang serpihan hidup yang pernah nyaris patah.
“Bagi aku, pendidikan bukan sekadar gelar. Itu adalah jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Untuk menjadi yang pertama di keluargaku yang bisa mengubah nasib,” paparnya.
Dunyi mengaku, ia tak lagi malu akan latar belakangnya. Justru dari sana ia belajar bahwa kekuatan tidak selalu berasal dari apa yang kita miliki, tapi dari seberapa besar kita mau berjuang.
“Kalau dulu aku malu dan takut, sekarang aku percaya diri. Karena masa lalu tidak menentukan siapa kita. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan hari ini,” tandasnya.
Untuk mereka yang lahir dari batas, Dunyi membawa pesan: jangan menyerah. Akses informasi kini lebih terbuka. Beasiswa ada. Peluang bisa dicari. Asal ada kemauan, pintu akan terbuka.
“Karena sejatinya, takdir bisa dilawan. Asal kita cukup berani menulis ulang jalan hidup kita sendiri,” pungkas Dunyi optimis. (tiwi)







