# Reka Ulang Sejarah
MALANG,WWW.PASJABAR.COM — Di sebuah gang kecil di kawasan Sumbersari, Malang, terdapat sebuah rumah yang tak sekadar menyimpan benda, tetapi juga menyalakan kembali memori kolektif sebuah bangsa.
Rumah itu kini dikenal sebagai Museum Reenactor Malang, sebuah ruang kecil dengan semangat besar untuk merawat sejarah lewat koleksi, cerita, dan aksi nyata.
Museum ini berawal dari satu situs bersejarah, sebuah bangunan tua yang pernah menjadi markas Komando Geriya saat agresi militer Belanda kedua di Malang.
Melihat pentingnya nilai sejarah bangunan tersebut, Komunitas Reenactor Malang pun bergerak. Mereka mulai mengumpulkan benda-benda yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu, lalu menjadikannya bahan edukasi.
“Awalnya hanya untuk menyelamatkan jejak sejarah di rumah itu. Tapi dari sana, ide untuk mendirikan museum berkembang,
apalagi setelah kami ikut Lomba Kampung Tematik dari Pemkot Malang tahun 2017,” ujar Mohammad Fariz, Humas Museum Reenactor Malang.
Kemenangan lomba itu menjadi titik balik. Pemerintah Kota Malang memberikan dukungan berupa bangunan yang kini menjadi lokasi museum.
Resmi berdiri tahun 2018 dan diresmikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Malang kala itu, Museum Reenactor menjadi salah satu ruang sejarah mandiri yang hidup berkat semangat komunitas.
Yang membuat museum ini istimewa adalah pendekatannya yang tak kaku. Koleksi yang ada, baik replika maupun benda otentik, bisa dilihat, disentuh, bahkan digunakan dalam sesi foto.
Ada senjata satu banding satu dari era Perang Dunia II dan perang kemerdekaan, mulai dari Jerman, Jepang, Inggris, hingga Belanda.
Sebagian besar berasal dari donasi, termasuk dari keluarga veteran.
“Salah satunya ada parasut dari seorang pensiunan tentara yang dulu ikut operasi pembebasan Irian Barat. Sekarang almarhum, dan anaknya menyumbangkan itu agar ceritanya tetap hidup,” ungkap Fariz.
Selain itu, ada juga dokumen-dokumen sejarah, seragam militer, hingga aksesoris pertempuran, yang semuanya dipakai dalam kegiatan reenactment atau reka ulang sejarah yang jadi ciri khas komunitas ini.
Komunitas Reenactor Malang juga rutin berpartisipasi dalam acara nasional seperti peringatan Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta atau pemberontakan PETA di Blitar. Dalam setiap peran yang mereka mainkan, ada upaya untuk merekonstruksi masa lalu dengan detail dan empati, agar generasi kini bisa membayangkan betapa mahalnya harga kemerdekaan.
“Yang kami lakukan bukan hanya menggambarkan. Tapi juga mengingatkan,” ujar Fariz.
Dengan jumlah anggota aktif sekitar 50 orang, mayoritas dari kalangan pelajar dan mahasiswa, komunitas ini mengandalkan nilai kekeluargaan, toleransi, dan musyawarah sebagai kunci untuk tetap solid selama 19 tahun berdiri sejak 20 Mei 2006.
Tak hanya berkutat di ruang fisik, kini mereka juga menghadirkan aplikasi digital bernama REKINDLE sebagai platform edukasi berbasis sejarah.
Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat mengakses informasi seputar koleksi museum, jadwal acara, hingga konten sejarah interaktif.
“Inovasi ini kami hadirkan agar museum dan sejarah tidak terbatas pada ruang dan waktu. Anak muda bisa belajar dari mana saja, kapan saja,” tambah Fariz.
Museum Reenactor Malang hadir sebagai panggung bagi masa lalu agar tetap relevan. Di tangan komunitas yang tulus menjaga, sejarah tidak lagi membosankan, tapi menjadi napas yang membimbing masa depan.
“Kalau kita tidak belajar dari sejarah, bisa jadi kesalahan yang sama akan terulang. Tapi kalau yang baik dari masa lalu bisa kita teruskan, masa depan pasti lebih baik,” tutup Fariz, dengan senyum penuh harap. (tiwi)







