PANGANDARAN, WWW.PASJABAR.COM – Paguyuban Pasundan kembali menggelar Sawala Budaya ke-44 yang berlangsung pada 29–31 Agustus 2025 di Pantai Indah Resort & Hotel Pangandaran, Jalan Kidang Pananjung 151, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Acara yang mengusung tema “Pageuh Dina Jati Diri – Jembar Dina Mangfaat Ngangkat Martabat Bangsa” ini dihadiri lebih dari 700 peserta dari seluruh pengurus cabang Paguyuban Pasundan di Indonesia.
Rangkaian inti Sawala Budaya yang terdiri dari Sawala I, Sawala II, dan Sawala III digelar pada Sabtu (30/8/2025).
Materi Sawala I: Pakan, Pangan, dan Energi Berbasis Sampah
Pada Sawala I, pemaparan materi pertama disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Teknologi Pangan Universitas Pasundan, Prof. Dr. Ir. Asep Dedy Sutrisno, M.P., yang membawakan topik “Pakan, Pangan & Energi Berbasis Sampah”.
Ia menjelaskan potensi sampah sebagai bahan baku yang memiliki nilai ekonomi, mulai dari pakan ternak, pangan, hingga energi alternatif.
“Sampah menjadi bahan baku yang nantinya menjadi produk bernilai ekonomi. Target pengembangan teknologi ini, pertama untuk mengatasi masalah lingkungan hidup, kedua untuk mengatasi masalah ekonomi, ketiga mengatasi masalah sosial, serta mendukung ketahanan pangan dan energi,” jelasnya.
Prof. Asep juga memperkenalkan mesin pengolah sampah yang dinamakan PESAT (Pengolah Sampah Tuntas) dengan konsep zero waste.
Mesin ini mampu mengolah berbagai jenis sampah menjadi produk bernilai, seperti tepung maggot, pupuk organik, bahan bakar, hingga paving blok.
“Sampah itu bukan musuh kita, bisa kita manfaatkan menjadi sahabat kita. Persoalannya hanya ada niat atau tidak, mau atau tidak, serta ada teknologinya,” tegasnya.
Diskusi dan Tanya Jawab
Materi yang dipaparkan memantik antusiasme peserta dari berbagai cabang. Kang Amin Prabu, perwakilan Paguyuban Pasundan Sumatera Barat, menanyakan kemungkinan presentasi langsung di Padang kepada Gubernur.
Prof. Asep menegaskan bahwa program ini sangat mungkin diadopsi dan pihaknya siap menindaklanjuti dengan studi banding.
Dudung Kusnadi dari Paguyuban Pasundan Jawa Timur menanyakan biaya pembuatan unit mesin. Prof. Asep menjelaskan, biaya bergantung pada kapasitas.
“Untuk satu RW biaya sekitar Rp95 juta, tiga sampai empat RW Rp400 juta, sementara skala desa Rp775 juta. Itu baru alatnya, sehingga total bisa berkisar Rp1,5 sampai Rp5 miliar,” paparnya.
Angga, perwakilan Paguyuban Pasundan Cirebon, mengajukan pertanyaan soal penerapan teknologi di wilayahnya.
Prof. Asep menjawab bahwa program ini dapat diadopsi melalui kerja sama dengan pemerintah daerah.
“Insya Allah bisa. Kita pun satu perahu, Paguyuban Pasundan bisa bangkit,” katanya.
Sementara itu, Didit Kusnandika dari Paguyuban Pasundan Nusa Tenggara Barat menyoroti aspek bisnis, mulai dari lahan, investasi, pelatihan SDM, hingga analisis ekonomi.
Menanggapi hal ini, Prof. Asep menyatakan pihaknya siap membantu membuat cash flow serta aturan teknis untuk memastikan program tidak hanya mengatasi sampah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Harapan untuk Aplikasi Nyata
Prof. Asep menekankan bahwa teknologi ini telah diuji coba di desa binaan yang mampu mengolah hingga 30 ton sampah per hari dengan kapasitas mesin berbeda (200 kg/jam, 500 kg/jam, hingga 2 ton/jam).
Selain ramah lingkungan, teknologi tersebut juga membuka peluang lapangan kerja baru di tingkat desa.
“Di satu desa, jika diterapkan, bisa menyerap 150–200 orang. Kita juga bisa mengurangi pengangguran, jadi satu desa itu bisa punya biaya sendiri. 80 persen alatnya pun kita bikin sendiri,” jelasnya. (han)







