BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di Jalan Kinanti, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, resmi disegel warga pada Minggu (14/9/2025).
Warga menilai keberadaan dapur yang beroperasi hampir 24 jam tersebut menimbulkan bau tak sedap dan kebisingan, sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.
Pantauan di lokasi pada Kamis (18/9/2025), dapur MBG yang biasanya ramai dengan aktivitas memasak tampak tertutup rapat. Di depan bangunan rumah bernomor 15 tempat dapur itu beroperasi, masih terlihat tanda penyegelan oleh warga.
Menurut keterangan warga, sejak awal keberadaan dapur MBG di kawasan padat penduduk sudah menuai penolakan. Beberapa warga mengaku sudah menyampaikan keberatan lantaran lokasi dapur dinilai tidak sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar.
Bahkan, pengelola pertama sempat membatalkan niat membuka dapur setelah mendengar penolakan warga. Namun, awal September lalu, dapur kembali beroperasi tanpa izin yang jelas.
Adam Harum, salah seorang warga, mengatakan bahwa aktivitas dapur menimbulkan dampak langsung terhadap kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Warga sejak awal sudah keberatan dengan adanya dapur ini, karena berada di tengah permukiman. Bau sampah dan kebisingannya sangat mengganggu. Kami tidak menolak programnya, justru kami mendukung, tapi lokasinya harus dipindahkan ke tempat yang tepat,” ungkap Adam.
Sejumlah warga lain juga mengeluhkan bahwa bau tidak sedap dari limbah dapur menyebar hingga ke rumah-rumah warga, terutama saat malam hari ketika aktivitas memasak meningkat.
Selain itu, suara kendaraan pengangkut bahan baku maupun distribusi makanan yang hilir mudik menambah kebisingan di lingkungan tersebut.
Meski demikian, warga menegaskan tidak menolak konsep dan tujuan program MBG yang bertujuan menyediakan makanan bergizi gratis bagi masyarakat.
Warga justru mendukung agar program tersebut tetap berjalan, namun dengan syarat dipindahkan ke lokasi yang lebih sesuai, misalnya ke area publik atau bangunan yang memang diperuntukkan sebagai dapur umum.
“Program ini bagus, niatnya mulia. Tapi jangan ditempatkan di kawasan padat penduduk. Dampaknya langsung terasa pada warga,” tambah Adam.
Harapan
Warga berharap ada solusi cepat dari pemerintah kota maupun pengelola agar program bantuan pangan bergizi tetap berlanjut tanpa harus mengorbankan kenyamanan masyarakat sekitar.
Kasus penyegelan dapur MBG di Lengkong ini menambah catatan tantangan dalam pelaksanaan program sosial yang menyasar masyarakat. Di satu sisi, keberadaannya membawa manfaat besar karena menyediakan makanan bergizi gratis.
Namun di sisi lain, masalah teknis seperti lokasi, izin, serta dampak lingkungan harus menjadi perhatian serius agar tujuan mulia program tidak berbalik menjadi masalah sosial baru. (uby)






