www.pasjabar.com — Stadion Coliseum tampak dingin pada dini hari itu, Senin (20/10). Namun bukan udara malam yang membuat suasana menegang, melainkan ketegangan yang merambat dari tribun hingga ke jantung para pemain. Getafe datang dengan misi besar: menjegal langkah Real Madrid.
Sementara Los Blancos, dengan wajah tenang Kylian Mbappé sebagai ujung tombak, tahu bahwa kemenangan di laga ini bukan hanya soal tiga poin—melainkan menjaga wibawa sebagai raja La Liga.
Getafe Memulai dengan Ledakan
Sebagai tuan rumah, Getafe berusaha mencuri momentum sejak awal. Serangan demi serangan mereka lancarkan ke barisan bertahan Madrid. Tim asuhan Xabi Alonso tak panik. Federico Valverde dan Eder Militão menjaga ruang pergerakan lawan dengan sabar, menunggu waktu untuk menerkam balik.
Tetapi justru Madrid yang mendapat peluang pertama. Menit ke-8, Mbappé menusuk ke kotak penalti dan melepas tembakan keras. Kiper David Soria dengan refleks tinggi menepis bola itu, seakan berkata: “Belum saatnya.”
Drama di Kotak Penalti dan Benturan Nasib
Menit ke-23, sebuah insiden membuat laga memanas. Seorang pemain Getafe terjatuh di kotak penalti Madrid. Para pemain tuan rumah menuntut penalti, namun wasit bergeming. Penolakan itu menyulut emosi, tapi Madrid tetap bergeming dalam ketenangan.
Mbappé kembali menari di menit ke-32, merobek pertahanan Getafe dengan kelincahannya. Namun lagi-lagi, bola tak menemui jalannya ke jala. Peluang Cristiano Alex San Cristobal pada menit ke-39 juga belum mampu mengguncang Thibaut Courtois. Skor tetap 0-0 saat turun minum, namun tensi terasa semakin padat.
Kartu Merah yang Mengubah Atmosfer
Memasuki babak kedua, Madrid tampil lebih dominan. Waktu berjalan, gol tak kunjung hadir. Hingga menit ke-77, momen krusial terjadi.
Allan Nyom, yang baru masuk menggantikan Kiko Femenia, langsung diganjar kartu merah karena pelanggaran keras terhadap Vinicius Jr. Kurang dari satu menit di lapangan, dan ia harus meninggalkan permainannya. Coliseum pun berguncang—Getafe kehilangan keseimbangan.
Madrid tahu, ini adalah pintu yang harus mereka dobrak.
Mbappé Menjadi Jawaban
Menit ke-80, Arda Güler mengiris lini tengah pertahanan Getafe dan memberikan umpan brilian. Mbappé menyambutnya dengan ketenangan khas pemain besar.
Sepakannya sempat ditepis Soria, membentur tiang, dan memantul masuk. Sebuah gol yang terasa seperti takdir.
Gol itu bukan hanya angka. Itu adalah puncak dari ketenangan, kesabaran, dan kepercayaan Madrid terhadap momen.
Sampai Peluit Panjang: Madrid Menang dengan Elegan
Setelah unggul, Madrid mencoba menambah gol. Getafe bertahan sekuat tenaga demi menjaga harga diri. Namun hingga peluit akhir berbunyi, skor tetap 1-0 untuk Los Blancos.
Kemenangan ini bukan kemenangan besar dari sisi skor. Namun dari sisi kontrol emosi, dominasi mental, dan sentuhan kelas dunia, Real Madrid berkata satu hal: “Kami masih penguasa.”







