CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Rabu, 13 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Misophonia Bukan Sekadar Sensitif Suara, Ini Penjelasan Medisnya

Hanna Hanifah
14 Januari 2026
Misophonia

ilustrasi. (foto: Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

WWW.PASJABAR.COM – Misophonia merupakan sindrom neurofisiologis yang membuat penderitanya mengalami reaksi emosional dan fisik yang kuat terhadap suara-suara tertentu.

Bunyi sederhana seperti suara mengunyah, klik pulpen, atau detak jam dapat memicu rasa marah, cemas, hingga dorongan untuk menjauh dari sumber suara.

Berdasarkan informasi dari laman resmi The International Misophonia Foundation, penderita misophonia cenderung bereaksi berlebihan terhadap suara yang berulang dan berpola. Respons yang muncul bukan sekadar rasa terganggu, melainkan iritasi dan kecemasan yang intens.

Baca juga:   Jalur KA Ciamis-Manonjaya Pulih, Operasi Normal Kembali

Pada kondisi ini, otak salah menafsirkan suara pemicu sebagai ancaman. Akibatnya, sistem saraf mengaktifkan respons bertahan hidup atau fight or flight. Reaksi tersebut terjadi secara otomatis dan cepat, tanpa disadari penderita.

Secara fisiologis, tubuh dapat menunjukkan tanda-tanda seperti detak jantung meningkat, berkeringat, hingga perubahan hormon stres. Reaksi ini mirip dengan respons tubuh saat menghadapi bahaya, meskipun pemicunya hanyalah suara sehari-hari.

Gejala, Pemicu, dan Cara Penanganan

Menurut laman resmi Cleveland Clinic, misophonia memengaruhi setiap individu secara berbeda. Seseorang bisa memiliki satu atau beberapa suara pemicu, dengan tingkat keparahan reaksi yang bervariasi, mulai dari rasa tidak nyaman ringan hingga kemarahan ekstrem.

Baca juga:   Emil Ajak Warga Bandung Ikut Uji Vaksin COVID-19 dari Cina

Pemicu yang paling umum meliputi suara orang mengunyah makanan, napas berat, bunyi ketukan, klik pena, tetesan air, hingga suara bibir mengecap.

Pada sebagian penderita, suara-suara tersebut dapat memicu emosi seperti marah, murka, atau jijik, disertai reaksi tubuh seperti jantung berdebar dan ketegangan otot.

Selain reaksi emosional dan fisik, misophonia juga dapat memicu perilaku tertentu, seperti melotot, menjauh, atau menutup telinga. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu hubungan sosial dan kualitas hidup.

Baca juga:   Puluhan Anak Yatim Dapat Santunan, STKIP Pasundan Cimahi Gelar Buka Bersama Ramadan Penuh Kepedulian

Sebagaimana dikutip dari Hindustan Times pada Selasa (13/1/2026), dokter spesialis anestesiologi dan pengobatan nyeri Kunal Sood menyatakan bahwa penanganan misophonia dapat dilakukan melalui terapi perilaku kognitif (CBT) maupun terapi suara.

Pendekatan ini bertujuan membantu penderita mengelola respons emosional dan meningkatkan toleransi terhadap suara pemicu. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: MisophoniaSensitif Suara


Related Posts

No Content Available

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.