CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Sabtu, 9 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Misteri Leuweung Titipan (Bag.1): Amanat Aki Karma di Tanah Parahyangan

pri
27 Januari 2026
generate by GeminiAI

generate by GeminiAI

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti Desa Pasir Angin. Suasana dingin khas pegunungan Jawa Barat menusuk hingga ke tulang, namun bagi Jaka, ini adalah harmoni yang selalu dirindukannya. Setelah lima tahun merantau di hiruk-pikuk Jakarta, ia pulang dengan satu misi: menjalankan wasiat mendiang kakeknya, Aki Karma.

Aki Karma bukan sekadar sesepuh biasa. Beliau adalah seorang Kuncen (penjaga) yang disegani. Sebelum berpulang, ia menitipkan sebuah kunci kuningan berukir motif sulur kepada Jaka.

“Jaga lembur, jaga dunya” (Jaga kampung, jaga dunia), bisik Aki kala itu.

Jaka tahu, pesan itu merujuk pada sebidang tanah di lereng Gunung Pangrango yang dikenal warga sebagai Leuweung Titipan (hutan titipan).

Filosofi Kasundaan dalam Sepiring Nasi Liwet

generate by GeminiAI
generate by GeminiAI

Sore harinya, Jaka berkumpul bersama Mang Dadang dan beberapa pemuda desa di balong (kolam ikan) belakang rumah.

Baca juga:   Pascasarjana Unpas Kaji Pemilu 2024 dan Prospeknya Bagi Masa Depan Bangsa

Sambil menikmati harumnya nasi liwet yang baru matang, mereka berbincang tentang rencana sebuah perusahaan pengembang yang ingin mengubah area hutan tersebut menjadi resort mewah.

“Jaka, hidup itu harus Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh,” ujar Mang Dadang sambil mengaduk sambal dadak.

“Kita mengasihi sesama, mempertajam pikiran, dan saling menjaga. Kalau hutan itu dibabat, bukan cuma pohon yang hilang, tapi napas budaya kita juga ikut musnah. Alam Sunda itu bukan warisan nenek moyang, tapi titipan anak cucu.”

Jaka terdiam. Kata-kata Mang Dadang mengingatkannya pada konsep Tri Tangtu di Bumi, sebuah keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Ia menyadari bahwa kunci kuningan di sakunya bukan sekadar simbol kepemilikan tanah, melainkan tanggung jawab moral yang berat.

Baca juga:   Harga Pangan: Fluktuasi Bawang Putih, Minyak Goreng, dan Beras

Ancaman di Balik Kabut: Modernisasi vs Tradisi

Ketegangan mulai memuncak ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan balai desa. Beberapa pria berpakaian rapi turun membawa gulungan cetak biru.

Mereka adalah perwakilan dari PT. Cakrawala, perusahaan yang bersikeras bahwa proyek mereka akan membawa “kemajuan” bagi Desa Pasir Angin dengan alasan pembukaan lapangan kerja.

Namun, Jaka melihat ada yang janggal. Di peta mereka, batas Leuweung Titipan tidak dicantumkan sebagai kawasan lindung, melainkan zona komersial.

Masyarakat desa mulai terpecah. Ada yang tergiur dengan uang ganti rugi yang besar, namun ada pula yang takut akan “kualat” jika mengusik hutan larangan tersebut.

Jaka tahu, ia harus segera bertindak sebelum alat berat pertama menyentuh tanah leluhurnya.

Baca juga:   Pemdaprov Jabar Umumkan Tiga Besar Peserta Seleksi 14 Jabatan Esselon 2

Misteri di Balik Kunci Kuningan dan Naskah Lontar

Malam itu, Jaka memberanikan diri menuju gubuk kecil milik Aki Karma di pinggir hutan.

Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci kuningan itu ke dalam sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bawah lantai bambu.

Di dalamnya, tidak ada emas atau surat tanah, melainkan sebuah naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar.

Naskah itu berisi tentang tata cara menjaga sumber mata air dan peringatan tentang bencana besar yang akan melanda jika keseimbangan Pajajaran diusik.

Jaka menyadari bahwa kunci itu adalah pembuka pengetahuan, bukan sekadar harta.

Kini, ia memiliki bukti otentik bahwa lahan tersebut secara adat adalah wilayah yang tidak boleh disentuh demi keselamatan ekologis seluruh lembah.

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: budayabudaya sundaCerita BersambungCerita PendekCerita Rakyat Jawa BaratFilosofi Budaya Sundajawa baratKearifan LokalLeuweung TitipanMisteriSastra


Related Posts

Sebuah pohon Kiara Payung tumbang di Jalan Encep Kartawiria, Cimahi, menimpa gerobak pedagang dan melukai 11 orang, termasuk siswa sekolah dasar. (Uby/pasjabar)
HEADLINE

Pohon Kiara Payung Tumbang di Jalan Encep Kartawiria Cimahi, 11 Orang Jadi Korban

4 Mei 2026
Viral video seorang anak disabilitas di Bandung Barat memiliki kebiasaan memakan rumput sejak usia 4 tahun. Bupati Jeje Ritchie Ismail turun tangan berikan bantuan. (Uby/pasjabar)
HEADLINE

Viral Bocah di Bandung Barat Gemar Makan Rumput, Bupati Jeje Ritchie Ismail Instruksikan Penanganan Intensif

30 April 2026
Penghargaan Paguyuban Pasundan
HEADLINE

Paguyuban Pasundan Raih Penghargaan dari HU Pikiran Rakyat di HUT ke-60

25 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.