WWW.PASJABAR.COM — Mentari pagi di Pasir Angin kembali menyapa, namun kali ini sinarnya terasa membawa beban baru bagi Jaka. Naskah lontar yang ia temukan di gubuk Aki Karma kini terbentang di depannya, di meja kayu sederhana di ruang tamu. Tulisan kuno yang terpahat apik itu seolah berbisik, memanggilnya untuk memahami makna di balik setiap aksara.
Menggali Makna Naskah Lontar Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Pagi itu, Jaka ditemani Mang Dana dan Mang Ade, pemuda desa yang kini solid mendukungnya. Mereka mencoba mengurai isi naskah itu.
Mang Dadang, dengan kacamata tuanya, mencoba membacakan baris-baris yang masih bisa dikenali.
“Ini… ini bukan sekadar peta atau surat tanah, Jaka,” ujar Mang Dadang, matanya menyorot tajam.
“Ini adalah ajaran, ‘ karesian ‘, tentang bagaimana manusia Sunda seharusnya hidup. Ada petunjuk menjaga cai (air), taneuh (tanah), dan leuweung (hutan) agar tidak kualat.”
Jaka teringat salah satu petikan dari Sanghyang Siksakandang Karesian yang pernah ia dengar dari Aki Karma:
“Hayang boga sawah, ulah ngaruksak leuweung. Hayang loba cai, ulah miceun runtah ka walungan.“
“(Ingin punya sawah, jangan merusak hutan. Ingin banyak air, jangan membuang sampah ke sungai).”
Ia menyadari bahwa naskah ini adalah fondasi filosofis mengapa Leuweung Titipan itu harus dipertahankan.
Hutan itu adalah penopang kehidupan seluruh lembah, bukan hanya sekadar kumpulan pohon.
Ujian Persatuan Desa: Ancaman Perpecahan
Situasi di desa semakin memanas. Pihak PT. Cakrawala tak berhenti melancarkan berbagai cara untuk memuluskan rencana mereka.
Mereka menyelenggarakan pertemuan terbuka, menawarkan kompensasi yang menggiurkan bagi warga yang setuju tanahnya dibeli.
Tak hanya itu, mereka juga menjanjikan berbagai fasilitas modern yang selama ini hanya bisa diimpikan warga: jalan beraspal, listrik 24 jam, bahkan beasiswa untuk anak-anak desa.
“Lihat saja desa sebelah, mereka maju karena ada investasi!” teriak seorang warga yang pro-pengembang, Mat Jaja.
“Kita tidak bisa selamanya hidup seperti ini, hanya bergantung pada sawah dan balong!”
Jaka dan Mang Dadang tahu, perpecahan ini adalah taktik umum untuk melemahkan perlawanan. Mereka berusaha meyakinkan warga bahwa kesejahteraan tidak selalu diukur dari kemewahan semu.
“Kita punya kekayaan yang lebih berharga: alam yang lestari, sumber mata air yang jernih, dan budaya yang kuat,” kata Jaka, suaranya berusaha menenangkan riuhnya suasana.
“Kalau hutan itu rusak, mata air kita kering. Lalu, mau makan apa kita? Mau minum apa?”
Perlawanan Melalui Kearifan Lokal Naskah Lontar Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Malam harinya, di bawah rembulan purnama, Jaka mengadakan musyawarah adat di balai desa. Ia mengeluarkan naskah lontar dan menjelaskan arti pentingnya Leuweung Titipan sebagai bagian dari tanah karamat (tanah yang disucikan).
Mang Dadang menambahkan, “Nenek moyang kita mengajarkan sauyunan, bersatu padu. Kita menjaga alam, alam menjaga kita. Ini bukan soal menolak kemajuan, tapi memilih kemajuan yang saluyu (selaras) dengan alam dan nilai-nilai kita.”
Jaka lantas mengusulkan sebuah rencana: membuat dokumentasi dan petisi yang didukung oleh bukti-bukti sejarah dari naskah lontar, serta didukung oleh kesaksian para sesepuh.
Mereka juga akan mengumpulkan data tentang potensi ekowisata dan pertanian organik di Leuweung Titipan, sebagai alternatif pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Semangat kebersamaan mulai tumbuh kembali. Warga yang tadinya bimbang, perlahan kembali merapatkan barisan.
Mereka sadar bahwa masa depan anak cucu jauh lebih penting daripada uang sesaat.
Bayangan Bahaya dari Balik Semak
Saat Jaka dan Mang Dadang pulang dari musyawarah, bayangan hitam mengintai dari balik semak-semak.
Seorang pria bertubuh kekar, yang sering terlihat bersama para perwakilan PT. Cakrawala, mematung di kegelapan.
Ia mencatat setiap nama yang hadir dalam musyawarah. Ancaman tidak hanya datang dari proyek pembangunan, tapi juga dari orang-orang yang siap melakukan apa saja demi keuntungan.
Jaka dan Mang Dadang merasakan firasat buruk. Perjuangan mereka tidak akan mudah.
Namun, dengan kekuatan sauyunan dan amanat leluhur yang kini jelas di hadapan mereka, Jaka merasa yakin bahwa mereka tidak akan berjuang sendirian.







