BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Guru muda lulusan Universitas Pendidikan Indonesia, Salsa Dilla Meisya, menghadirkan inovasi pembelajaran literasi berbasis aktivitas fisik bagi anak usia sekolah dasar, termasuk anak disabilitas. Inovasi tersebut mulai diterapkan pada awal 2026 di sejumlah sekolah di wilayah Jawa Barat.
Media pembelajaran yang dikembangkan memadukan kegiatan literasi dengan gerak fisik sederhana. Dalam praktiknya, siswa diajak berjalan mengikuti jejak kaki yang disusun membentuk alur cerita. Di setiap titik langkah, terdapat gambar yang perlu diamati, kemudian siswa diminta mengekspresikan kembali cerita tersebut secara lisan, tulisan, maupun melalui gambar sesuai kemampuan masing-masing.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga melibatkan aspek motorik, keberanian berekspresi, serta interaksi sosial antar siswa.
Salsa menilai pembelajaran literasi selama ini masih cenderung pasif sehingga belum sepenuhnya melibatkan semua peserta didik.
“Literasi seharusnya tidak hanya duduk, membaca, lalu menulis. Anak-anak, termasuk anak disabilitas, perlu ruang untuk bergerak, berekspresi, dan merasa percaya diri dalam proses belajarnya,” ujar Salsa kepada PASJABAR, Jum’at (20/2/2026).
Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis aktivitas fisik membuat suasana belajar lebih natural dan ramah bagi seluruh siswa.
“Ketika anak merasa aman dan dihargai, mereka lebih berani mencoba. Dari situ rasa percaya diri tumbuh, dan pembelajaran menjadi lebih bermakna,” katanya.
Sejumlah guru dan siswa yang telah mencoba media tersebut mengaku pembelajaran terasa lebih hidup dan interaktif dibandingkan metode sebelumnya. Anak-anak dinilai lebih aktif serta berani menyampaikan pendapat.
Dalam pelaksanaannya, penilaian dilakukan secara fleksibel melalui observasi dengan menekankan proses belajar, keberanian mencoba, dan keterlibatan aktif siswa.
“Setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Penilaian tidak bisa hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada proses dan perkembangan masing-masing,” tutur Salsa.
Selain mudah dibuat dan tidak bergantung pada teknologi, media ini dapat digunakan baik di dalam maupun luar kelas. Integrasi literasi, bahasa, dan aktivitas jasmani adaptif menjadi nilai tambah yang menjadikan pembelajaran lebih holistik dan inklusif.
Melalui inovasi tersebut, Salsa berharap semakin banyak pendidik terinspirasi menghadirkan pembelajaran kreatif dan ramah bagi seluruh peserta didik.
“Pendidikan inklusif bukan sekadar wacana. Ia harus hadir dalam praktik nyata di ruang kelas, agar setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan belajar yang adil dan bermakna,” pungkasnya. (tiwi)




