DENPASAR, WWW.PASJABAR.COM— Bagi sebagian orang tua, kabar bahwa anak mengalami kesulitan belajar seperti disleksia atau ADHD kerap menimbulkan kekhawatiran. Namun kisah seorang anak berusia 10 tahun dari Bali menunjukkan bahwa perbedaan cara belajar bukanlah akhir dari peluang untuk berprestasi.
I Gede Kelvin Narendra Van Veggel, anak berdarah Indonesia-Belanda, berhasil meraih penghargaan The Best Animation Award 2025 dalam ajang internasional Scratch Olympiad melalui gim karyanya yang berjudul Neon Tokyo City Defender.
Kelvin merupakan anak dengan disleksia dan ADHD, dua kondisi yang sering membuat proses belajar di sekolah menjadi lebih menantang. Ia bahkan sempat menghadapi kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah sebelumnya karena metode pembelajaran yang tidak sepenuhnya memahami kebutuhan belajarnya.
Namun di balik kesulitan mengeja dan menjaga fokus, Kelvin memiliki imajinasi serta ketertarikan kuat pada dunia teknologi. Ia kemudian menemukan minatnya dalam bidang pemrograman atau coding.
Ketertarikan itu berkembang setelah Kelvin mengikuti pembelajaran di Timedoor Academy Denpasar, sebuah lembaga pendidikan teknologi bagi anak-anak dan remaja. Di tempat tersebut, Kelvin mendapatkan pendampingan intensif untuk mengembangkan kemampuan pemrogramannya.
Melalui proses belajar tersebut, ia berhasil menciptakan gim Neon Tokyo City Defender, yang kemudian meraih penghargaan animasi terbaik dalam kompetisi Scratch Olympiad tingkat internasional.
Saat ini Kelvin juga menempuh pendidikan di Trihita Alam Eco School Bali, sebuah sekolah yang menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis alam dan menghargai keunikan setiap anak. Lingkungan belajar yang suportif disebut menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan kepercayaan diri dan kreativitasnya.
Selain prestasi tersebut, Kelvin juga masuk dalam nominasi Digital Rising Star dari Timedoor Academy, sebuah penghargaan bagi talenta muda di bidang teknologi digital.
Meski masih berusia 10 tahun, Kelvin telah memiliki mimpi besar. Ia berharap suatu hari dapat berkontribusi dalam kemajuan teknologi Indonesia.
“Saya ingin membawa nama Indonesia lebih naik lagi. Harapan saya, Indonesia bisa jadi negara teknologi terbaik di dunia,” ujarnya.
Kisah Kelvin menjadi pengingat bahwa anak-anak dengan kebutuhan belajar berbeda bukan berarti memiliki keterbatasan dalam meraih prestasi. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan yang tepat, potensi mereka justru dapat berkembang menjadi kekuatan yang luar biasa. (*/tiwi)







