CIMAHI, WWW.PASJABAR.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamax sebesar Rp500 per liter sejak awal Maret 2026 mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Kondisi ini terlihat dari meningkatnya penggunaan BBM subsidi Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), termasuk di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Sejumlah pengendara kini lebih memilih menggunakan Pertalite yang harganya masih berada di kisaran Rp10 ribu per liter. Perubahan pilihan bahan bakar ini terlihat dari antrean panjang kendaraan yang mengisi Pertalite di beberapa SPBU.
Kenaikan harga Pertamax sendiri tidak lepas dari situasi global, terutama dampak konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel yang memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia. Perubahan harga energi global tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi harga BBM di Indonesia.
Salah seorang pengendara, Nepan, mengaku kenaikan harga Pertamax sebesar Rp500 per liter tidak terlalu menjadi persoalan selama ketersediaan BBM tetap terjaga. Namun ia berharap harga Pertamax tidak terus mengalami kenaikan signifikan.
“Kalau naik Rp500 per liter tidak masalah, yang penting stok tersedia dan jangan sampai harganya melewati Rp15 ribu per liter,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Rencana Kontingensi
Sementara itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan, memastikan bahwa hingga saat ini stok bahan bakar minyak di Indonesia masih dalam kondisi aman meski terjadi konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Hal tersebut disampaikan Luhut saat ditemui usai memberikan kuliah umum di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Kota Cimahi. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan dampak lanjutan dari konflik internasional terhadap pasokan energi.
“Kita sudah memiliki rencana kontingensi jika peperangan itu terus berlanjut,” kata Luhut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi global. Serta menyiapkan strategi untuk memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri tetap terjaga.
Luhut juga mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir secara berlebihan terkait kondisi stok BBM di Indonesia. Pemerintah, kata dia, terus melakukan berbagai langkah antisipatif. Guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. (uby)







