BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Rencana Pemkot Bandung untuk menjadikan salah satu hotel di kawasan Dago sebagai tempat isolasi bagi pasien covid-19, diprotes warga. Mereka menilai Pemkot Bandung tidak melakukan sosialisasi kepada warga.
“Kami tahu kabar ini dari pegawai hotel tersebut. Kami sebelumnya tidak diberikan sosialisasi apa-apa,” ujar salah seorang warga RW 06 kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Lukman Nugraha kepada wartawan, Senin (1/2/2021).
Ia menyebutkan alasan penolakan warga lantaran khawatir jika ada hotel yang terletak di sekitaran rumah mereka dijadikan tempat isolasi, akan membahayakan bagi mereka. “Di sekitar sini juga kan banyak anak kecil. Jadi kami khawatir ada dampak negatifnya,” tutur Lukman.
Menurut Lukman, warga berharap Pemkot melakukan kajian dahulu, apakah aman jika di kawasan tersebut dijadikan tempat isolasi bagi penderita Covid-19 atau tidak.
Lukman mengatakan, meski sekarang sudah ada sosialisasi dari Dinas Kesehatan, kelurahan dan Kecamatan namun warga sudah terlanjur kecewa karena tidak dilibatkan sedari awal.
“Ya kita belum memutuskan lagi, jika Pemkot nantinya memberikan sosialisasi, kami akan menerima atau tidak,” terangnya.
Di kawasan tersebut lanjut Lukman, aparat kewilayahan dan warga sudah memiliki tempat isolasi mandiri, yang bisa digunakan jika warga ada yang terjangkit virus covid-19.
“Setahu saya, bahkan tenpat isolasi itu sudah digunakan bagi warga yang terpapar,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, wajar jika ada penolakan dari warga. Namun bagaimanapun juga harus dilakukan edukasi dan pemahaman tentang penyebaran virus covid-19.
“Misalnya, virus bisa melayang-layang di udara. Itu sesuatu pemahaman yang harus diluruskan, agar tidak jadi kesalah pahaman di tengah-tengah warga,” terangnya.
Ema mengakui, untuk membicarakan mengenai tempat isolasi mandiri ini, Pemkot Bandung memang tidak melakukan komunikasi dengan vulgar. Namun bukan berarti menutup-nutupi, apalagi sampai tidak melakukan komunikasi.
“Kita hanya tidak ingin ada pihak-pihak yang memanfaatkan satu kondisi di mana ada warga yang menolak,” tegas Ema.
Ema menjelaskan, jika semua tempat isolasi mandiri ditolak warga disisi lain Kota Bandung sangat membutuhkan karena peningkatan jumlah penyitas Covid-19, dikhawatirkan kasus membludak, maka tentu akan kewalahan.
“Kita tetap akan melakukan komunikasi dengan warga. Di sisi lain, kita akan tetap mencari alternatif lain,” terangnya. (put)







