BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Dwi Soebawanto menyampaikan bahwa banyak orang tua siswa dari keluarga tidak mampu (KETM) bermasalah dalam Pembelaran Daring di masa pandemi Covid 19.
“Hal ini, karena beberapa oknum guru sekolah di Kota Bandung memaksakan siswanya harus belajar daring virtual dengan zoom. Ini sangat memberatkan orang tua siswa dari kalangan keluarga tidak mampu,” ujar Dwi dalam rilis yang diterima PASJABAR, Minggu (8/8/2021).
“Karena perhari bisa empat jam, mengikuti zoom dari pukul 08.00- 12.00,” sambungnya.
Sementara itu, lanjut Dwi bantuan dari Kemendikbud belum turun. Kalaupun turun terangnya tidak cukup untuk kebutuhan yang diperlukan.
Padahal, Ucap Dwi dalam SE Kemendikbud No 15 thn 2020 tentamg KBM di masa pendemi di jelaskan bahwa PJJ tidak harus selalu Daring. Daring tidak selalu Virtual (Zoom,GCR ). Namun bisa non virtual (WA, telegram ,Email, dan lain-lain).
“Bagi siswa KETM lakukan saja oleh sekolah Luring dengan perbanyak Modul SMA/SMK terbuka. Yang sudah disediakan oleh kemendikbud,” ujarnya.
Menurut Dwi, seharusnya guru melayani siswa baik yang daring maupun yang luring.
“Kami juga memohon Disdik Jabar dan Disdik Kota Bandung menginstruksikan kepada semua sekolah untuk patuh terhadap SE no 15 thn 2020 tersebut. Jika tetap melanggar mohon oknum guru dan sekolahnya di beri sanksi
Sebelum Fortusis melaporkannya ke ombudsman,” pungkasnya. (*/tiwi)






