CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Unpas Gelar Seminar Lokakarya: Ke Islam-an dan Ke Sunda-an

Hanna Hanifah
26 Juni 2024
unpas

Unpas ggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk "Ke Islam-an dan Ke Sunda-an" di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024). (foto: han/pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Universitas Pasundan atau Unpas menggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk “Ke Islam-an dan Ke Sunda-an” yang bertempat di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024).

Acara Seminar Lokakarya mengenai ‘Penguatan KeIslaman dan Kesundaan Unpas tersebut dihadiri oleh beberapa Civitas Akademika Unpas yang diantaranya juga sebagai pemateri.

Diantaranya Rektor Unpas Prof. Dr. H. Azhar Affandi, SE., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, Alumni, Agama dan Budaya (Belmawabud) Unpas Prof. Dr. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan Prof. Dr. Ali Anwar Yusuf, M.Si., Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Syiar Islam (LPPSI) Unpas Dr. K.H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua Lembaga Budaya Sunda (LBS) Unpas Dr. H. Wawan Setiawan, M.Sn.

Seminar ini pun dihadiri beberapa Dekan yakni Dekan FKIP Unpas Dr. Hj. Dini Riani, S.E., M.M, Dekan FEB Unpas Dr. Juanim, S.E., M.Si., Dr. Kunkunrat, M.Si. dan Plt Dekan FISS Unpas Dr. Hj. Senny Suzanna Alwasilah, M.Pd. dan civitas akademika lainnya.

unpas
Unpas ggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk “Ke Islam-an dan Ke Sunda-an” di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024). (foto: han/pasjabar)

Dalam sambutannya, Rektor Unpas Prof. Azhar menyampaikan bahwa Unpas tetap konsisten dan komitmen dalam mengusung core identity yang bersumber dari core value nilai-nilai Islam dan budaya Sunda sebagai pola ilmiah pokok untuk mewujudkan visi Universitas Pasundan.

“Core value ini bukan sekedar identitas semata, tetapi tentu harus kita wujudkan dan kita implementasikan,” katanya.

Prof. Azhar juga menjelaskan bahwa visi Unpas telah bertransformasi dari visi lama menjadi visi baru.

Visi lama adalah menjadi komunitas akademik peringkat internasional yang mengusung nilai Sunda dan Islam.

Berdasarkan statuta Unpas Tahun 2023, telah dirumuskan visi baru yaitu menjadi Universitas Kewiraswastaan yang dijiwai nilai keislaman dan kesundaan.

Baca juga:   25 Kasus Covid-19 Terkonfirmasi Positif di Kota Bandung

“Namun yang perlu kita garisbawahi, bahwa perubahan visi ini yang cukup signifikan dengan merubah kalimat menjadi komunitas akademik peringkat internasional, ke visi baru menjadi universitas kewiraswastaan, jadi menurut saya tentunya mengandung konsekuensi terhadap muatan kurikulum,” ujar Rektor.

Pemaparan Sesi Pertama Seminar

Sementara itu, dalam sesi pertama seminar, Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan, Prof. Ali, menyampaikan pentingnya jati diri bangsa yang merupakan konsep merangkum identitas kolektif suatu bangsa, mencakup nilai-nilai, norma, dan karakteristik yang membedakan satu bangsa dari yang lain.

“Globalisasi membawa perubahan yang cepat, memengaruhi budaya, agama, dan sistem nilai masyarakat,” ujarnya.

Prof. Ali menekankan bahwa jati diri bangsa yang kokoh dan solid merupakan hasil dari integrasi harmonis antara nilai agama dan budaya. Kedua elemen ini memberikan fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter dan identitas nasional, serta menjadi panduan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan zaman.

“Melalui pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai agama dan budaya, suatu bangsa dapat menjaga keutuhan dan keberlanjutan jati dirinya,” tandasnya.

Sesi pertama pemaparan kedua yakni dari Ketua LBS Unpas Wawan atau akrab disapa Hawe Setiawan pun menyampaikan pandangannya bahwa lahir dan besar di tatar Sunda sudah menjadi nasib seseorang.

unpas
Unpas ggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk “Ke Islam-an dan Ke Sunda-an” di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024). (foto: han/pasjabar)

Namun, kemampuan seseorang untuk menjadi manusia seutuhnya merupakan pilihan yang harus diambil dengan sadar.

Hawe mengutip tulisan dari Wahyu Wibisana (1935-2014) dalam Bahasa Sunda:

“Nu ka dieu, nu di dieu, nu ti dieu

Mangka jalakharupatan

Carek siksa kandang karesian

Baca juga:   Rian Duta FH Unpas Tingkatkan Kualitas Diri Untuk Menjadi Abdi Negara

Sang amaca mawa sukma

Nurut ma ujar Rahayu

Jung jeung pung”

Hawe menjelaskan bahwa almamater Pasundan dan lingkungan warga kampus terdiri dari berbagai generasi yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan generasi, nilai-nilai keislaman dan kesundaan tetap menjadi identitas yang dipegang teguh oleh seluruh civitas akademika Unpas.

“Almamater pasundan, lingkungan warga kampus beda-beda generasi,” kata Hawe.

Pemaparan Sesi Kedua Seminar

Memasuki sesi kedua dalam Seminar Lokakarya tersebut yang disampaikan oleh Dr. Tata, mengatakan bahwa dalam paradigma sekularistik, Islam dipandang sebagai ajaran “langit” yang diturunkan di Jazirah Arab oleh seorang Nabi, sementara Sunda dianggap sebagai ajaran “bumi” yang diturunkan di Nusantara oleh kepala suku (puun).

Dr. Tata berpendapat bahwa mengawinkan keduanya dianggap tidak mungkin karena sifat dasar yang berbeda.

“Relasi ini menghasilkan ekspresi keberagaman Nyunda tidak Nyantri atau Nyantri tidak Nyunda,” katanya.

Dalam paradigma integralistik, Dr. Tata mengutarakan, Islam sebagai ajaran dan Sunda sebagai ajaran dianggap sama, sehingga mengamalkan ajaran Sunda sama dengan mengamalkan ajaran Islam.

“Sunda mah, sudah Islam sebelum Islam. Gerakan ini bersifat Deistik (Faith without Religion), paham agama yang mengutamakan substansial dan mengabaikan ritus juga simbol keagamaan dan kebudayaan secara formal,” jelasnya.

Sedangkan paradigma simbiotik menjelaskan pola relasi air dengan bejana, di mana Islam diibaratkan sebagai air dan Sunda sebagai bejana.

unpas
Unpas ggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk “Ke Islam-an dan Ke Sunda-an” di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024). (foto: han/pasjabar)

Paradigma ini memposisikan Islam sebagai ajaran dan Sunda sebagai etnik penerima ajaran.

Dr. Tata mengatakan bahwa membumikan nilai Keislaman dan Budaya Sunda bisa dilakukan melalui pendekatan struktural, kultural, dan virtual.

Baca juga:   Cara Pelatih Caretaker FC Dallas Bantu Timnas Indonesia

“Karakter baik menyampaikan yang diamalkan dan mengamalkan yang disampaikan,” katanya, menekankan pentingnya integritas antara perkataan dan perbuatan dalam menghidupkan nilai-nilai keislaman dan budaya Sunda.

Prof. Cartono dalam sesi terakhir seminar menjelaskan bahwa Universitas Pasundan (Unpas) memiliki Pola Ilmiah Pokok (PIP) sebagai identitas yang berasal dari nilai-nilai Islam dan Budaya Sunda, dikenal dengan Trijatidiri UNPAS. Trijatidiri ini mencakup:

  1. Pemahaman Nyantri, Nyunda, Nyakola, yang menggambarkan integrasi nilai-nilai keagamaan, budaya Sunda, dan pengetahuan intelektual.
  2. Pemahaman Pengkuh Agamana (Spiritual Quotient), Jembar budayana (Emotional Quotient), Luhung Elmuna (Intelligent Quotient), yang menekankan pentingnya pengembangan kapasitas spiritual, emosional, dan intelektual dalam pendidikan di Unpas.

Prof. Cartono menekankan pentingnya mewujudkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. Islam diposisikan sebagai sebuah sistem yang harus direalisasikan dalam praktik sehari-hari.

“Menjadi dosen atau mahasiswa untuk sukses menjalani kehidupan dunia maupun akhirat memang berat, tapi hidup adalah pilihan. Mari kita jadikan Unpas tidak hanya investasi dunia tapi juga menjadi investasi akhirat,” ajaknya, mengajak seluruh komunitas Unpas untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam setiap aspek kehidupan mereka.

unpas
Unpas ggelar acara Seminar Lokakarya bertajuk “Ke Islam-an dan Ke Sunda-an” di Mandala Saba, Kampus II Universitas Pasundan Tamansari, Rabu (26/6/2024). (foto: han/pasjabar)

Acara tersebut pun selesai pada pukul 11.40 WIB yang ditutup dengan pesan dari Dr. Tata dan Prof. Cartono sebagai pemateri sesi kedua.

“Moal boga purah lamun teu daek peurih, moal boga ajian lamun teu lulus ujian, moal boga karomah lamun teu istiqomah,” pesan Dr. Tata.

“Kita tidak akan dapat menemukan kebaikan di segala keadaan dan di setiap tempat, tapi kita bisa menanam kebaikan di setiap tempat kapanpun dan dimanapun,” pesan Prof. Cartono. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Yatti Chahyati
Tags: islam dan sundaseminar lokakaryaseminar lokakarya unpasseminar unpasuniversitas pasundanunpas


Related Posts

IKA Unpas 2026
HEADLINE

Dr. Nenden Euis Sri Mulyati Terpilih Menjadi Ketua IKA Unpas 2026–2031

10 Mei 2026
Guru Besar Unpas
HEADLINE

Pengukuhan 9 Guru Besar Unpas, Perkuat Posisi sebagai Kampus dengan Profesor Terbanyak di Jabar dan Banten

9 Mei 2026
Sidang Doktor Ade Yusuf
HEADLINE

Sidang Doktor Ade Yusuf Bahas Pengaruh Faktor Teknologi terhadap Penggunaan Bukalapak

8 Mei 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.