BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Anak-anak saat ini sangat akrab dengan game, terutama melalui gawai. Hal itu karena kini gawai bisa dimiliki semua orang. Bahkan, orang tua tak segan memberikan gawai meski sang anak masih kecil.
Hal itu bisa jadi pintu pembuka bagi anak untuk bermain game. Ujung-ujungnya, anak bisa kecanduan bermain game yang berdampak buruk pada prestasinya di sekolah.
Sebab, mereka yang kecanduan game, biasanya akan lebih tertarik bermain game ketimbang belajar. Jika kondisi ini sudah terjadi, orang tua jangan menyalahkan anak.
Tak hanya itu, anak juga bisa terganggu kesehatannya, misalnya mata. Anak juga berpotensi mengalami penyakit lain. Sebab, mereka yang kecanduan bermain game biasanya lupa makan dan minum, bahkan kurang tidur.
“Jangan menyalahkan anak jika mereka kecanduan bermain game,” kata Owner Indonesia E-Sports Premier League (IESPL) Giring Ganesha.
Harusnya, orang tua justru introspeksi diri. Sebab, bisa jadi penyebabnya adalah pengawasan dan pembatasan orang tua terhadap anaknya dalam bermain game sangat lemah.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk melakukan pembatasan dan mengawasi anak dalam bermain game. Jangan terlalu acuh jika tak ingin anak kecanduan anak bermain game dan akhirnya ada dampak negatif bagi mereka.
“Kecanduan game itu menurut saya yang bisa menghentikan dan menetralkannya itu adalah orang tua dan keluarga,” jelas Giring yang merupakan eks vokalis band Nidji.
Untuk mengatasi anak kecanduan game sendiri memang tidak mudah. Perlu waktu dan strategi secara bertahap untuk mengurangi mereka kecanduan.
Yang terbaik adalah beri anak waktu untuk bermain game. Tapi, batasi waktunya dan kurangi secara bertahap. Jalin kesepakatan dengan anak soal aturan tersebut, termasuk konsekuensi hukuman yang harus dijalani. (ors)






