CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Waspada Musim DBD Dimasa Pandemi COVID-19

admin
11 Mei 2020
Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Di tengah pandemic COVID 19, masyarakat juga harus waspada dengan DBD. Hal tersebut diungkapkan Wakil Dekan III FK Unpas dan Koordinator Penanganan Medis Satgas Penanggulangan Covid-19 Paguyuban Pasundan, Trias Nugrahadi, dr,SpKN (K) lewat tayangan kuliah FK Unpas bersama PAS TV belum lama ini.

“Berdasarkan data Kemenkes, tren kasus DBD saat ini masih naik dengan sedikitnya 254 jiwa meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya pandemi Covid-19. Berdasarkan data per 6 April 2020, Provinsi Jawa Barat memiliki kasus tertinggi dari daerah lainnya, yakni 6.337 kasus. Setelah itu disusul Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 4.524 kasus,” terangnya.

Secara keseluruhan, tercatat 40.856 kasus yang tersebar di sejumlah provinsi dengan 260 kasus kematian. Dari jumlah korban meninggal dunia, paling tinggi berada di NTT yaitu 48 kasus disusul dengan Jawa Barat 33 kasus dan Jawa Timur 26 kasus.

Selain itu, Kemenkes juga mencatat 10 kabupaten dan kota dengan kasus DBD tertinggi. Pertama, Kabupaten Sikka sebanyak 1.572 kasus, Kabupaten Buleleng 883 kasus, Kota Bandung 835 kasus, dan Kabupaten Ciamis 652 kasus. Selanjutnya, Kabupaten Pringsewu 694 kasus, Kabupaten Lampung Tengah 603 kasus, Kabupaten Belu 569 kasus, Kota Kupang 578 kasus, Kabupaten Malang 587 kasus,dan Lampung Timur 474 kasus.

“Masih tingginya kasus DBD, juga disebabkan oleh faktor cuaca.   pergantian ke musim kemarau belum sampai di puncaknya,” terangnya.

Baca juga:   Diikuti 255 Peserta, STKIP Pasundan Gelar Lomba Memanah

Oleh karena itu, masyarakat harus segera datang ke fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas jika mengalami gejala DBD. Kecepatan waktu dibutuhkan untuk segera mendapatkan penanganan medis.

“Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala DBD, jangan terlambat ke Rumah Sakit, bila ada gejala demam tinggi tiga hari tanpa sesak atau batuk, atau suara sesak. Perhatikan adakah bintik-bintik merah atau gusi berdarah, atau mimisan sebagai tanda awal DBD,” ucapnya.

Adapun perbedaan Demam Berdarah Dengue dengan Covid 19, diantaranya penyebab DBD oleh Virus Dengue yang  perantaranya nyamuk aedes aegypti. Penularan kontak dengan kasus positif dengan gejala demam tinggi mendadak, selanjutnya demam tinggi 3 hari berturut. Di mana hari 3-5 akan merasa lebih baik karena berkeringat dingin , tapi sebetulnya memasuki masa kritis( 5 – 7), mual-muntah, sakit kepala hebat, kelelahan dan mudah lelah rasa sakit muncul dibelakang mata, nyeri otot dan persendian, perdarahan ringan ( hidung berdarah, memar, gusi berdarah), muncul ruam kulit/bintik merah (thrombocyt sudah < 100.000 mcl) ujung tangan pucat dan faeses kehitaman.

DBD pun bisa menyerang siapa saja yaitu dari anak sampai orang tua. Pemeriksaan pun perlu dilakukan dengan darah lengkap, yakni test dengue serta untuk memutus rantai virus dapat dilakukan dengan 3 M atau menutup, menguras dan mendaur ulang wadah.

Baca juga:   Begini Tiga Langkah Pemprov Jabar Tangani DBD

Sementara itu, COVID 19 menular dari manusia ke manusia lewat perjalanan ke daerah wabah. Gejalanya meliputi demam, batuk, sesak nafas,  pilek atau hidung berlendir, Sakit tenggorokan di mana keluhan mirip gejala pneumonia dan dapat menyerang orang tua, imunitas rendah dan yang memiliki penyakit bawaan. Pengecekan dapat dilakukan dengan Swab test dan pencegahan dapat dilakukan dengan physical distancing dan hand hygiene.

“Ada kasus yang terjadi di mana seorang pasien di Singapura datang dengan mengalami gejala yang mirip dengan gejala DBD, seperti demam, batuk, nilai trombositnya rendah, nilai leukositnya rendah, tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri serta tidak merasa pernah berkontak dengan orang yang positif COVID-19,” ulasnya.

Lalu, pemeriksaan rontgen pun menunjukkan hasil baik. Setelah itu, dokter memeriksanya dengan melakukan rapid test untuk DBD dan hasilnya positif.

Akhirnya, dokter memutuskan untuk mendiagnosis kondisinya sebagai DBD. Namun, setelah beberapa hari menjalani perawatan, pasien tak kunjung membaik dan malah mengalami gejala tambahan, yaitu sesak napas.

Setelah melakukan pemeriksaan rontgen paru ulangan, dokter memutuskan untuk menjalankan pemeriksaan swab pada pasien. Hasilnya, ternyata pasien positif COVID-19.

Kasus lainnya pun tidak jauh berbeda juga terjadi pada pasien kedua di Singapura. Bedanya, gejala yang ia alami juga ditambah dengan lemas, nyeri otot, dan diare. Karena kondisinya yang tak kunjung membaik setelah dirawat akibat DBD, maka dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan tambahan, termasuk swab untuk corona dan ternyata, hasilnya pun positif COVID-19.

Baca juga:   Roma Vs Bologna: Menang 3-1, Rossoblu Nyaman di Empat Besar

“Kesalahan diagnosis kedua pasien ini, disebut dalam laporan tersebut adalah karena hasil false positif atau positif palsu saat dilakukan rapid test DBD.  Sebaiknya jika memenuhi kriteria, pasien suspect DBD juga menjalani tes COVID-19 untuk mendapatkan diagnosis yang lebih pasti,” tandasnya.

Trias pun menambahkan bahwa menjaga kesehatan adalah hal yang penting. Terlebih saat bulan ramadhan dan orang berpuasa maka imunitas pun akan menjadi lebih baik.

“Physical distancing, memakai masker dan jangan berkerumun, saat ini masih banyak orang berkerumun di pasar dan tanpa kita sadari hal itu menjadi salah satu ruang penularan COVID 19,” ucapnya.

Di samping itu, makanan yang sehat bagi tubuh juga penting. Saat  berbuka puasa untuk menggantikan energi yang ada sebaiknya jangan langsung makan gorengan dan minuman yang terlalu dingin.

“Olah raga dapat dilakukan untuk membakar lemak dan menurunkan  berat badan, dapat dilakukan maksimal dua jam sebelum berpuasa,” tutupnya. (Tan)

 

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: DBDdr trias nugragadipaguyuban pasundanpandemi coronapastvpasundansatgas covid


Related Posts

Pelantikan Paguyuban Pasundan Papua
HEADLINE

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Wilayah Paguyuban Pasundan se Tanah Papua

25 April 2026
Penghargaan Paguyuban Pasundan
HEADLINE

Paguyuban Pasundan Raih Penghargaan dari HU Pikiran Rakyat di HUT ke-60

25 April 2026
pasundan law fair 2026
HEADLINE

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.