BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru membuat satu daerah di Jawa Barat masuk ketegori zona merah. Daerah itu yakni Kota Depok. Selain itu ada Sembilan kab/kota di Jabar yang masih berstatus zona kuning.
Hal itu diungkapkan Wakil Koordinator Sub Divisi Kebijakan dan Kajian Epidemiologi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar, Bony Wiem Lestari, di GOR Saparua, kemarin.
“Tren kasus positif COVID-19 di Jabar meningkat. Hal tersebut terlihat dari zona risiko 27 kabupaten/kota di Jabar. Periode 27 Juli-2 Agustus 2020, terdapat 1 daerah masuk zona risiko tinggi (merah), 9 daerah zona risiko sedang (oranye), dan 17 daerah zona risiko rendah (kuning). Sedangkan, pada periode 20-26 Juli 2020, tidak ada daerah di Jabar yang berstatus risiko tinggi,” terangnya.
Yang termasuk zona merah yakni Kota Depok, sedangkan Sembilan kab/kota yang kuning yakni,Kab Bandung, KBB, Kab Bekasi, Kab Bogor, Kab Purwakarta, Kab Subang, Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Bogor. Sedangkan sisanya masih masuk ke resiko rendah.
“Masyarakat harus mempersiapkan diri untuk menerapkan protokol kesehatan. Jadi, protokol kesehatan harus jadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Seperti pakai masker serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” kata Bony.
Bony mengatakan, terdapat tiga aspek yang digunakan untuk mengukur level risiko COVID-19, yakni aspek epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Selain itu, angka reproduksi efektif (Rt) COVID-19 Jabar pada 2 Agustus berada di angka 1,23.
“Peningkatan ini terjadi di antaranya karena ditemukan klaster baru. Kasus impor terjadi karena ada mobilitas penduduk, terutama dari daerah transmisi lokal yang masuk ke Jabar. Ada juga klaster perkantoran, klaster keluarga, dan klaster tenaga kesehatan,” ucapnya.
Hingga kini, Gugus Tugas Jabar sudah melakukan 171 ribu pengetesan (testing) metode uji usap (swab test) Polymerase Chain Reaction (PCR). Dari jumlah tersebut, kata Bony, positivity rate Jabar berada di angka 7,5 persen. Sedangkan, standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 5 persen.
Menurut Bony, dari permodelan yang dikerjakan, pihaknya memprediksi akan ada penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 2.200-3.000 dalam satu bulan ke depan. Maka itu, ia mengingatkan kepada masyarakat Jabar untuk disiplin terapkan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan.
“Garda terdepan melawan COVID-19 ini adalah masyarakat sehingga implementasi protokol kesehatan, disiplin pakai masker, jaga jarak, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan syarat wajib,” katanya.
“Masyarakat perlu belajar. Saat sejumlah kegiatan dibuka, tapi tidak disiplin terapkan protokol kesehatan, risiko (penularan COVID-19) naik lagi. Kalau terus bertambah berat bisa PSBB lagi. Tapi, kalau protokol kesehatan diterapkan, saya kira pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama mengerem lonjakan kasus,” imbuhnya. (*/tie)







