CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 11 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASJABAR

Era Baru Pertanian Dengan Sistem Irigasi Pintar Encomotion

Tiwi Kasavela
15 April 2021
Era Baru Pertanian Dengan Sistem Irigasi Pintar Encomotion

Ilustrasi (https://m.antaranews.com/berita/2100382/bantul-gandeng-bmkg-bina-kelompok-tani-pahami-iklim-untuk-pertanian)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Badan Kejuruan Teknik Fisika dari Persatuan Insinyur Indonesia mengadakan acara bertajuk “BKTF Goes to Campus Merdeka” sesi ke-4, dengan tema Precision Farming beberapa waktu lalu.

Turut menjadi narasumber Alumni Teknik Fisika ITB yang membuat sistem irigasi pintar Encomotion, Nugroho Hari Wibowo atau Bowo.

Melalui Teknik Fisika, terang Bowo, ia membangun tim dengan anggota yang beragam, sehingga terciptalah BIOPS Agrotekno Indonesia—startup dengan visi menghadirkan era baru pertanian Indonesia melalui pengembangan sains dan teknologi yang diaplikasikan untuk pertanian Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan inovasi precision farming.

“Selain mengembangkan teknologinya, kami juga memiliki tim riset untuk menggali potensi-potensi apa selanjutnya yang dapat dikembangkan. Sebuah teknologi yang akan diterapkan pada sektor pertanian,” jelasnya dalam rilis yang diterima PASJABAR, Kamis (15/4/2021).

Baca juga:   Kondisi Jasad Almarhumah Lina Saat Makam Dibongkar

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), latar belakang dari petani Indonesia sebanyak 41,79% hanya tamatan SD atau sederajat.

Tentunya hal ini, sambung Bowo berkelindan dengan cara para petani mencari informasi, cara mereka memanfaatkan informasi yang masuk, serta cara mereka untuk menerapkan hasil telaah informasi yang didapat.

“Selain itu, petani kita mayoritasnya berada pada usia tua, di atas usia 45 tahun,” tambahnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak anak muda yang tidak tertarik lagi menjadi petani, dengan berbagai macam alasan. Begitu pula dengan pemanfaatan teknologi yang memiliki nilai rendah, yaitu 50,72% tidak menggunakan atau menerapkan teknologi maupun mekanisasi, sehingga mayoritas sektor pertanian di Indonesia hanya mengandalkan insting turun temurun dan dilakukan dengan cara konvensional.

Baca juga:   ITB Benarkan Mahasiswanya jadi Joki Tes CPNS di Lampung

Menurut Bowo, salah satu permasalahan yang perlu dihadapi untuk saat ini adalah sungai yang mengering ketika memasuki musim kemarau, juga penggunaan pestisida kimia hampir pada setiap tanaman untuk mencegah serangan hama dan penyakit.

Pada setiap pertanian, dibutuhkan data berupa suhu, kelembapan udara, intensitas cahaya dan curah hujan secara real-time dan prediksi cuaca beberapa hari ke depan. Maka untuk menjawab tantangan tersebut, dibuatlah Encomotion, sistem irigasi pintar yang mengatur kebutuhan air tanaman secara otomatis berdasarkan kondisi lingkungan tanaman berada.

“Perangkat dari Encomotion sendiri sudah berupa machine-to-machine sehingga tidak ada lagi petani yang harus melakukan penyiraman dan lain-lain,” jelasnya.

Data-data itu akan diambil dari perangkat yang sudah terpasang pada lahan mereka.

Baca juga:   Halal Bihalal di Gedung Sate, Emil Titip Pesan Ini

Data-data yang diambil oleh perangkat Encomotion adalah data suhu, cahaya, kelembapan, curah hujan, serta kecepatan angin yang nantinya akan dikirimkan ke server milik Encomotion. Data-data ini nantinya dapat diawasi secara real-time.

Jika dibandingkan dengan pertanian konvensional, pertanian yang memanfaatkan Encomotion secara statistik meningkatkan produktivitasnya sebesar 40%, menghemat biaya operasional hingga 50%, dan menghemat air serta pupuk hingga 40%.

Sedangkan tanpa encomotion, tanaman tumbuh tidak seragam, rata-rata buah lebih sedikit, rata-rata luas daun lebih kecil, dan diameter batang lebih kecil.

“Mindset yang ingin kami ubah dari para petani kita adalah bahwa sebenarnya teknologi ini bisa diterapkan pada lahan petanian mereka yang rata-rata memiliki luas lahan kecil dan modal yang kecil,” tutupnya. (*/tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Badan Kejuruan Teknik FisikaBKTF Goes to Campus MerdekaITBPersatuan Insinyur IndonesiapertanianPrecision Farming


Related Posts

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda
HEADLINE

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda

25 April 2026
itb utbk
HEADLINE

Pelaksanaan UTBK 2026 di ITB Hari Pertama Berjalan Lancar

22 April 2026
ITB SSU
HEADLINE

ITB Perpanjang Pendaftaran SSU 2026, Beri Kesempatan Lebih Luas

20 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.