BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menggaungkan slogan ‘Sekolah di Mana Saja Sama’ dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA/sederajat tahun 2021 ini.
Lewat slogan ini, Disdik ingin mengubah persepsi publik soal sekolah. Sebab, selama ini kadung berkembang istilah sekolah favorit dan bukan favorit.
Tak hanya di antara sekolah negeri, Disdik juga ingin mengikis stigma jika sekolah swasta sebagai tempat siswa yang tidak memenuhi standar sekolah negeri. Sehingga, sekolah swasta pun dijadikan pilihan ketiga siswa dalam PPDB tahun ini.
“Tahun dulu jargonnya itu ‘Semua Anak Bisa Sekolah’. Makanya pada saat tahun ini, kaitan dengan teman-teman yang sekolah swasta masuk dalam pilihan PPDB, kita sampaikan adalah di tahun ini jargonnya adalah ‘Sekolah di Mana Saja Sama’,” kata Kadisdik Jawa Barat Dedi Supandi di SMAN 20 Bandung, Jumat (4/6/2021).
Lewat slogan baru, diharapkan pandangan sekolag favorit atau bukan bisa dikikis. Di sisi lain, sekolah swasta juga diharapkan tak dianggap sebagai tempat ‘pelarian’. Sebab, esensi pendidikan adalah membuat anak memiliki karakter yang positif dalam berbagai aspek.
“Maksudnya adalah memberikan pemahaman kepada publik, kepada orang tua, kepada siswa, bahwa mau negeri mau swasta semuanya sama,” ungkapnya.
Pandangan soal sekolah favorit sendiri di antaranya muncul karena fasilitas lengkap di sekolah yang menunjang siswanya berprestasi. Sedangkan yang bukan sekolah favorit fasilitasnya seadanya.
Lalu, di tengah upaya menghilangkan imej adanya sekolah favorit, realistiskah Disdik Jawa Barat? Sebab, setiap sekolah punya fasilitas berbeda. Ada yang fasilitasnya mumpuni, ada yang justru ironi.
Namun, menghilangkan imej sekolah favorit dianggap realistis. Alasannya, pemerintah menurutnya terus berupaya agar semua sekolah memiliki standar dan fasilitas yang merata. Salah satunya melalui bantuan dari pemerintah untuk sekolah.
Baik sekolah negeri maupun swasta sama-sama mendapat bantuan agar bisa meningkatkan fasilitas dan berbagai hal lain untuk menunjang kegiatan belajar. Berapa besarannya?
“Untuk swasta kita namakan secara anggaran namanya BPMU atau biaya Bantuan Pendidikan
Menenangah Universal. Nilainya tahun ini naik sebesar Rp700 ribu per siswa, itu belum ditambah dengan dana bos, dan lain-lain. Itu saya pikir cukup untuk saat ini kita lakukan,” jelas Dedi.
Yang kedua, untuk sekolah negeri ada namanya program BOPD. Lewat program ini, sekolah akan bantuan di kisaran Rp150 ribu per siswa.
Dengan cara ini, sekolah, terutama sekolah ‘biasa’ akan merasakan dampak luar biasa. Sekolah akan memiliki anggaran lebih besar dari biasanya dan bisa digunakan untuk mengembangkan berbagai hal di sekolah, terutama penyediaan fasilitas belajar mumpuni.
Sehingga, kualitas sekolah yang selama ini dianggap bukan favorit akan meningkat. Sekolah favorit bisa menahan diri agar tidak terus melaju meninggalkan sekolah ‘biasa’.
“Tujuannya adalah bagaimana tadi sekolah yang dulunya belum favorit bisa mengejar ketertinggalan sarana dan prasarana pembangunan bagi yang favorit ini,” paparnya.
Berapakah anggaran yang digelontorkan? Untuk BOPD saja mencapai Rp1,9 triliun dan untuk anggaran BPMU yang swasta itu mencapai di Rp929 miliar. Jadi total hampir di Rp2,8 triliun,” tutur Dedi.
Dengan cara ini, ia optimistis kualitas sekolah di Jawa Barat akan merata. Sehingga, imej adanya sekolah favorit bisa dihilangkan.
“Dibandingkan dengan anggaran pendidikan di provinsi lain di Jawa, Jabar ini paling besar dukungannya. Ini bagian dari kita untuk meratakan bahwa ke depan itu (semua sekolah) sama,” tandas Dedi. (ors)




