CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Di Tengah Pandemi Permintaan Susu Murni KPBS Meningkat, Tapi Hadapi Masalah Ini

Tiwi Kasavela
8 Agustus 2021
Di Tengah Pandemi Permintaan Susu Murni KPBS Meningkat, Tapi Hadapi Masalah Ini

Ketua Umum Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, Aun Gunawan. (ctk/pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM–Ketua Umum Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, Aun Gunawan mengungkapkan, hingga saat ini permintaan susu murni KPBS terus mengalami peningkatan, terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini.

“Saat ini, jumlah produksi susu murni KPBS Pangalengan mencapai 75 ton setiap harinya,” terang Aun saat ditemui di ruang kerjanya Jum’at (6/8/2021).

Selama masa pandemi Covid-19, permintaan susu murni segar memang terus meningkat.

Selain sektor industri, peningkatan permintaan susu murni atau fresh milk juga terjadi untuk kalangan pengecer.

Sebagian konsumen menganggap, mengonsumsi susu murni dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga tidak rentan terpapar penyakit.

“Dari jumlah produksi susu sapi Pangalengan ini, sebanyak 20 persen atau sekitar 15 ton susu sapi diolah menjadi berbagai macam produk turunan susu sapi, seperti di antaranya susu pasteurisasi, yoghurt, dan keju mozarella,” ulasnya.

Aun menambahkan bahwa Saat ini, jumlah peternak sapi perah yang tergabung menjadi anggota KPBS Pangalengan mencapai 2.600 orang.

Baca juga:   Begini Langkah Jaga Kesehatan Jantung Sejak Awal

“Jumlah populasi sapi anggota KPBS Pangalengan mencapai 14.000 ekor,” imbuhnya.

Disinggung mengenai distribusi susu sapi tersebut, Aun menjelaskan, didistribusikan ke beberapa industri yang telah bekerjasama dengan KPBS Pangalengan.

Diakui Aun, permintaan industri pengolahan susu murni KPBS Pangalengan memang naik.

Meski demikian, pihaknya belum bisa memenuhi permintaan tersebut dikarenakan masalah pakan sapi yang terbatas. Sebab, lanjut Aun, produksi susu sapi perah ini turut dipengaruhi pakan.

“Yang menjadi persoalan kami sekarang adalah pakan ternak. Masalah pakan ini adalah masalah klasik yang terus dihadapi. Sebelum pandemi pun masalah ini menjadi hambatan kami untuk meningkatkan produksi susu. Bahkan masalah pakan ini sudah disampaikan ke kementerian terkait,” ungkap Aun.

Idealnya, lanjut Aun, pakan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu ini sebesar 30 konsentrat berupa wheat pollard atau dedak dan 70 persen hijauan (rumput).

Baca juga:   Motorola X70 Air Hadir 31 Oktober, Andalkan Snapdragon 7 Gen 4

Namun karena keterbatasan lahan hijauan, para peternak menggunakan 70 persen konsentrat dan 30 persen hijauan.

Namun saat ini, pemenuhan konsentrat pun turut terganggu karena produsen terigu terdampak pandemi Covid-19.

“Saat ini sangat berat bagi kami untuk menyediakan konsentrat. Karena bahan bakunya tergantung juga by product perusahaan pangan, salah satunya produsen terigu. Sebab, wheat pollard ini hasil sampingan penggilingan gandum. Gandum digiling menghasilkan tepung terigu. Jika pakan sulit, maka akan berpengaruh juga pada produksi susu,” tutur dia.

Bahkan, dikatakan Aun, masalah ini bukan hanya dialami peternak anggota KPBS Pangalengan saja, melainkan permasalahan peternak sapi perah di Indonesia.

Aun pun berharap pemerintah dapat lebih fokus terhadap kebutuhan peternak sapi perah dalam negeri.

Hal itu berdasarkan pemenuhan kebutuhan susu sapi dalam negeri yang baru mencapai 18 persen, sedangkan sisanya dipenuhi dari susu impor.

Baca juga:   Mengejar Keajaiban Di GBLA: Bojan Hodak Akui Mental Pemain Persib Terguncang Usai Kalah Telak dari Ratchaburi FC

Seorang peternak sapi perah Pangalengan Asep Rhamdan (36) mengatakan, saat ini produksi susu sapi yang dihasilkan 5 sapi miliknya mencapai sekitar 200 kilogram setiap harinya.

Rata-rata, lanjut Asep, satu ekor sapi menghasilkan 40 kilogram. Jumlah produksi susu itu diakui Asep menurun dari sebelumnya.

Terlebih saat ini lahan hijauan sangat sulit didapat. Diakui Asep, memang jumlah permintaan susu sapi murni pada masa pandemi Covid-19 ini cukup tinggi. Namun, dirinya dan juga peternak sapi perah lain tidak bisa berbuat banyak.

“Produksi susu terutama dipengaruhi pakan ternak. Sekarang lahan hijauan sulit apalagi mau masuk musim kemarau. Selain itu, dedak (konsentrat) juga sulit karena terpengaruh kiriman dari KPBS. Beberapa waktu lalu pengurus KPBS juga menjelaskan kalau sulitnya konsentrat ini dipengaruhi hasil produksi olahan tepung terigu. Karena dedak ini kan hasil sampingan penggilingan gandum,” ucap dia. (ctk)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Susu Murni KPBS


Related Posts

No Content Available

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.