CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 11 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASPENDIDIKAN

Literatur Pasca Erupsi Gunung Api Indonesia Justru Lebih Banyak Oleh Ahli Eropa

Yatti Chahyati
12 Desember 2021
Selain Merapi, 19 Gunung Ini Berstatus di Atas Normal

foto: Ilustrasi Gunung Merapi (dokumentasi Badan Geologi)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Literatur pasca-erupsi gunung api di Nusantara ternyata telah banyak dilakukan oleh ahli dari bangsa Eropa. Hal itu diungkapkan Sejarawan Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A, dalam pendokumentasian dari jejak penelitian para ahli botani masa kolonial dalam mempelajari kondisi pasca-erupsi di Hindia Belanda.

“Eksotisme gunung api Indonesia telah menarik perhatian para ahli sejak zaman kolonial. Hal ini disebabkan, di balik bencana vulkanik yang menyebabkan kerusakan infrastruktur hingga mampu menelan korban jiwa dan materi, ada proses revegetasi ekosistem pasca-erupsi yang memukau para ahli saat itu,” tuturnya, dalam laman resmi Universitas Padjadjaran, Minggu (12/12/2021).

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Sejarah, Agustus 2019, Fadly memaparkan bahwa geliat para ilmuwan untuk meneliti dampak bencana vulkanik kian mengemuka setelah dua bencana erupsi besar gunung api terjadi pada abad ke-19, yaitu erupsi Gunung Tambora pada 1815 dan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883.

Baca juga:   Pastv || Gus Ahad Wakil Rakyat Perjuangkan Guru Honorer

Kendati terjadi jauh dari Benua Biru, dua bencana erupsi ini telah menyita perhatian dunia. Ini disebabkan, erupsi Tambora dan Krakatau berdampak pada perubahan iklim global. Perubahan ini kemudian berakibat pada kerusakan lahan pangan dan kelaparan di berbagai penjuru dunia.

Dalam jangka panjang, dampak bencana vulkanik Tambora dan Krakatau juga memengaruhi kondisi vegetasi di wilayah sekitar gunung api. Pengaruh abu vulkanik terhadap kondisi tanah kemudian menyita perhatian para botanis.

Fadly mengungkapkan, ada perbedaan dari perhatian para botanis terhadap kondisi vegetasi pasca-erupsi Tambora dan Krakatau. Erupsi Tambora yang terjadi 68 tahun sebelum Krakatau dinilai menjadi erupsi terbesar dalam kurun 500 terakhir saat itu.

Baca juga:   Siswa Kelas 3 SD Asal Soreang Punya Cita-cita jadi Marbot Masjid

Namun, peristiwa ini belum banyak mendapat perhatian dari para ilmuwan untuk menelitinya.

Erupsi Krakatau serupa dengan Tambora, yaitu sama-sama memiliki dampak global setelahnya. Namun, Fadly menemukan, yang membedakan adalah letusan Krakatau memiliki pengumpulan informasi lebih lengkap dan tersebar lebih cepat sebelum sebaran debu vulkaniknya.

Selain itu, pasca-erupsi Krakatau menjadi lahan studi yang unik bagi botanis untuk mengkaji bagaimana restorasi sistem hujan hujan tropis di pulau itu setelah hancur total disapu erupsi.

Perkembangan revegetasi pasca-erupsi Krakatau memang terus menarik perhatian para ilmuwan. Bukan hanya untuk penelitian yang menghasilkan publikasi dan diskusi, tetapi juga punya pengaruh kuat bagi kehidupan sosial ekonomi. Selain itu, penelitian ini juga berpengaruh signifikan terhadap khazanah penelitian dan publikasi terkait botani di Hindia Belanda.

Baca juga:   Ahli ITB Ungkap Ancaman Gunung Tertidur di Indonesia

Fadly menuliskan, berbagai penelitian vegetasi Krakatau pasca-erupsi di kalangan ahli botani memiliki tujuan memetakan masalah untuk mencari solusi bagaimana proses revegetasi berlangsung di kawasan gunung api. Publikasi penelitian para botanis terhadap Krakatau sebagai “laboratorium dunia botani” turut mengembangkan gairah penelitian botani di Hindia Belanda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana erupsi gunung-gunung api dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesuburan tanah. Peran alam dalam proses revegetasi Krakatau merupakan fase awal sebelum berlangsungnya proses kolonisasi wilayah sekitar bencana erupsi oleh manusia. (tie)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Gunung apipeneliti Unpaduniversitas padjdjaran


Related Posts

Ahli ITB
HEADLINE

Ahli ITB Ungkap Ancaman Gunung Tertidur di Indonesia

7 Desember 2025
peneliti gunung api
HEADLINE

Peneliti Baru Bisa Prediksikan Pola Magma Gunung Api

15 April 2025
PVMBG Sebut Gunung Api Aktif di Jawa Barat Berstatus Normal
PASJABAR

PVMBG Sebut Gunung Api Aktif di Jawa Barat Berstatus Normal

9 Desember 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.