CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

UGM Inisiasi NATURE untuk Atasi Anemia dan Stunting

Yatni Setianingsih
6 Januari 2022
UGM Inisiasi NATURE untuk Atasi Anemia dan Stunting

Kampus UGM (foto : https://www.ugm.ac.id/id/berita/19011-ugm-buka-tiga-jalur-masuk-seleksi-mahasiswa-baru)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menginisiasi pembentukan Indonesia Nutrition University Network (NATURE). Jejaring lembaga akademik ini, memiliki komitmen bersama untuk membantu penurunan masalah anemia dan stunting di Indonesia.

Kegiatan pembentukan jejaring ini melibatkan perwakilan 27 lembaga akademik. Terdiri dari perwakilan 25 perguruan tinggi yang berasal dari 21 provinsi di Indonesia dengan 2 di antaranya berasal dari perwakilan Lembaga Eijkman dan perwakilan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (stunting). Kegiatan ini dimulai sejak Juli-November 2021, yang terdiri dari tiga fase yakni sosialisasi, diskusi, dan pembentukan kesepakatan.

Pada fase pertama, diperoleh beberapa rekomendasi terkait stunting dan anemia di Indonesia. Khusus untuk kasus stunting, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS dari Institut Pertanian Bogor merekomendasikan bahwa pencegahan stunting sebaiknya berfokus mulai dari calon pengantin hingga anak lahir berusia 2 tahun sesuai keunikan tumbuh kembang masing-masing.

Baca juga:   Pakar UGM Sebut Ini Penyebab Perilaku Klitih

“Tidak cukup hanya 1.000 hari pertama kehidupan karena calon orang tua harus diberi bekal mengenai optimalisasi gizi keluarga sejak akan menikah. Rekomendasi kedua, perlu penguatan kebijakan penurunan angka stunting. Kebijakan yang sudah ada saat ini sudah baik, namun lemah dalam upaya konvergensi terutama tatanan kabupaten/kota sampai desa dan RW,” katanya seperti dikutip PASJABAR dari laman ugm, Kamis (6/1/2022).

Sedangkan untuk kasus anemia, Prof. Mohammad Juffrie, M.Med, Ph.D, Sp.A(K) (UGM); Prof. Indrawati Liputo, MD, Ph.D, Sp.GK (UNAND); dr.M.Med Agussalim Bukhari, Ph.D, Sp.GK(K) (UNHAS); Idrus Jus’at, Ph.D (UEU); drh. Safarina G Malik, MS., Ph.D (Lembaga Eijkman) memaparkan berbagai hasil kajian mengenai anemia gizi dan non gizi di Indonesia.

Baca juga:   Kenali Inilah Tipe-tipe Bipolar

Anemia tidak hanya disebabkan kekurangan zat besi saja, namun penyakit infeksi seperti malaria, tuberkulosis, hingga genetik dapat menjadi penyebabnya. Sama seperti stunting, program penanganan anemia tidak bisa disama ratakan, dan perlu melihat hal utama yang menjadi penyebab kasus anemia di setiap daerah.

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Fakultas Kedokteran UI dr. Widjaja Lukito, Ph.D, Sp.GK menjelaskan pentingnya pendekatan  ekonutrisi, yaitu menilik bagaimana lingkungan, kesehatan, dan status gizi saling berhubungan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam penanganan anemia dan stunting.

Baca juga:   UGM Raih Dua Penghargaan dari Kemenkes

Rujukan berjenjang

Rujukan berjenjang perlu dilakukan baik pada tingkat komunitas melalui posyandu, puskesmas maupun rumah sakit dengan inovasi berbasis potensi lokal hingga pemberian pangan olahan untuk keperluan medis khusus ( PKMK).

Dr. dr Vivien Novarina Kasim, MKes dari Universitas Negeri Gorontalo menceritakan penelitiannya di daerah terpencil di Kabupaten Boalemo, Gorontalo dan menemukan bahwa riwayat ASI eksklusif, pendapatan keluarga, dan sanitasi lingkungan berhubungan signifikan dengan kejadian stunting di wilayah tersebut. Faktor ekonomi dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan dan kebersihan yang rendah merupakan masalah utama program penurunan stunting. Oleh karena itu, perlu intervensi holistik dan kolaboratif untuk meningkatkan keberhasilan program. (ytn)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: AnemiaStuntingUGM


Related Posts

Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung
HEADLINE

Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung Klaim Pembahasan Capai 75 Persen, Fokus Pertajam Misi SDM

5 Mei 2026
Pencegahan Stunting
HEADLINE

REHAT: Menguatkan Keluarga, Cegah Stunting untuk Generasi Emas 2045

4 Maret 2026
Alergi
HEADLINE

Alergi Gluten Bisa Sebabkan Gangguan Pencernaan hingga Anemia

11 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.