CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 12 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASNUSANTARA

ITB Adopsi OVOP ala Jepang untuk Angkat Potensi Desa

Yatni Setianingsih
25 Januari 2022
Ragam Beasiswa ITB untuk Mahasiswa Baru 2023

Kampus ITB (foto : itb.ac.id)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Guna mengembangkan potensi yang dimiliki daerah yang ada di Indonesia, menurut Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB, Deny Willy Junaidy, Ph.D., kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan harus fokus pada potensi dari daerah tersebut.

Hal ini, katanya telah diakui dan banyak dikembangkan oleh beberapa negara di dunia, yang dikenal dengan one village one product (OVOP).

“One village one product (OVOP) ini sebenarnya merupakan konsep pengembangan desa yang diinisiasi oleh seorang Gubernur di Kota Oita, Jepang bernama Morihiko Hiramatsu. Saat itu, sang gubernur kota ini mampu mengubah kondisi Provinsi Oita yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah provinsi paling miskin menjadi daerah provinsi percontohan di Jepang,” katanya dalam rilisnya, Selasa (25/1/2022).

Pada dasarnya, istilah OVOP ini mulai dikenalkan Hiramatsu saat Provinsi Oita terancam mati akibat peristiwa eksodus besar-besaran yang dilakukan penduduknya pada tahun 1979.

Baca juga:   Pendiri Masjid Salman ITB Wafat

Upaya ini diawali dengan keputusan Hiramatsu untuk mengundang para champion masing-masing desa, ke dalam suatu pertemuan. Dalam rapat tersebut, ia mendapatkan informasi bahwa setiap daerah di Provinsi Oita memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan.

Akibatnya, Hiramatsu pun memutuskan untuk melakukan dukungan dan pelatihan kepada para champion tersebut untuk mulai melakukan berbagai usaha meningkatkan kondisi perekonomiannya. Selang beberapa tahun, usaha Hiramatsu ini berhasil dan Provinsi Oita pun tidak lagi ditetapkan sebagai kategori daerah termiskin di Jepang.

Salah satu buktinya adalah mereka berhasil mengembangkan banyak desa untuk berkreasi sesuai potensi, seperti Yuzu dan Taketa Village yang memanfaatkan pertanian jeruk lemon sebagai pusat perekonomian mereka.

“Saat eksodus di Oita itu terjadi, Gubernur Hiramatsu tidak langsung mengundang investor. Namun, yang ia lakukan adalah mengadakan pertemuan dengan para champion dan kemudian melakukan dukungan kepercayaan diri kepada mereka agar mampu memanfaatkan potensi daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

Baca juga:   Yuk Kenali Cara Proses Kopi Sebelum Bisa Dinikmati

OVOP di Indonesia

Berdasarkan fenomena ini, Denny berpendapat bahwa prinsip OVOP ini juga bisa diterapkan dengan baik di Indonesia. Ia yakin, setiap daerah di negara ini pasti memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Oleh karena itu, sebagai salah satu perguruan tinggi yang selalu berperan aktif dalam upaya pengembangan daerah-daerah terpencil di Indonesia, ITB telah menerapkan konsep OVOP ini.

Dari sekitar 270 program pengabdian masyarakat yang dilakukan setiap tahunnya, ITB selalu memastikan bahwa kegiatan tersebut selalu berfokus kepada potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah binaannya.

Ia menyebutkan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB selalu mendesain program pengabdian masyarakat dengan berfokus pada potensi daerah binaan dengan empat kategori. Pertama pemberdayaan desa, kedua pemulihan ekonomi, ketiga mitigasi dan adaptasi bencana, serta keempat industri kreatif dan pariwisata. Dengan membagi wilayah Indonesia ke dalam pola lima lingkar bagian, ia yakin mampu mendeteksi daerah-daerah mana saja yang memang membutuhkan kegiatan pengabdian masyarakat ini.

Baca juga:   Hobi Menggambar, Yovi Mahasiswa FT Unpas Terus Geluti Design

“Kami membagi wilayah pengabdian masyarakat ini ke dalam lima lingkar. Yaitu: wilayah di sekitar lingkungan kampus ITB, Provinsi Jawa Barat, Pulau Jawa, daerah yang berlokasi di luar pulau Jawa, dan wilayah perbatasan serta wilayah 3T (Terluar, Tertinggal dan Terjauh). Harapannya pembagian pola lima lingkar ini akan memberikan persebaran yang merata dalam kegiatan pengabdiannya nanti,” jelasnya. (*/ytn)

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: desaITBOVOP


Related Posts

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda
HEADLINE

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda

25 April 2026
itb utbk
HEADLINE

Pelaksanaan UTBK 2026 di ITB Hari Pertama Berjalan Lancar

22 April 2026
ITB SSU
HEADLINE

ITB Perpanjang Pendaftaran SSU 2026, Beri Kesempatan Lebih Luas

20 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.