BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Rapat Pimpinan DPRD Kota Bandung hasilkan tiga nama sebagai calon Pj Wali Kota Bandung yang akan diajukan ke Kementerian Dalam Negeri.
Ketiga nama itu yakni Dedi Sopandi kini sebagai Asda Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ema Sumarna kini sebagai Sekda sekaligus Pelaksana harian (Plh) Wali Kota Bandung, dan Tim Kerja Percepatan Pembangunan Prof Muradi merupakan Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad).
“Sebenarnya, sebelumnya ada 4 nama yang diusulkan. Selain tiga nama tersebut Prof Karim Suryadi termasuk yang diusulkan. Tapi sesuai Permendagri 24 tahun 2023 kita hanya dapat mengusulkan 3 nama. Hasil kesepakatan kemarin akhirnya dimunculkan lah 3 nama yang kita susun berdasarkan alfabeth tidak berdasarkan nomor urut. Yakni pak Dedi, pak Ema, dan pak Muradi,” ujar Wakil Ketua DPRD I Kurnia Solihat, Selasa (8/8/2023).
Terkait pemerintah pusat menyetujui atau tidak, kata Kurnia itu sepenuhnya hak Menteri Dalam Negeri.
“Bahasanya untuk DPRD Kota dan Provinsi dapat mengusulkan, judulnya dapat mengusulkan, beda kalau Kemendagri mengusulkan dan akhirnya Mendagri yang memutuskan. Jadi kalau kami mengusulkan itu berdasarkan aturan saja,” paparnya.
Kurnia menyampaikan yang boleh diusulkan hanya ASN eselon IIA, dan di Kota Bandung hanya satu-satunya yakni Sekertaris Daerah (Sekda) Ema Sumarna.
Sedangkan yang pernah di Kota Bandung sekarang di Provinsi Jawa Barat ada nama Dedi Sopandi. Untuk prof Muradi sendiri dimunculkan karena pernah menjadi tim kerja Wali Kota.
“Intinya kita mengusulkan orang-orang yang paham Kota Bandung. Masalah nanti disetujui, dipilih oleh Mendagri atau tidak ya itu kita hanya mengusulkan. Tapi harapan kita diantara itu, yang menjadi pilihan mereka, yang mengerti masalah pembangunan Kota Bandung ke depan karena mereka paham akan Kota Bandung,” harapnya.
Pemilihan Calon Penjabat Wali Kota Bandung Bukan Keinginan Pribadi
Kurnia pun membantah untuk pemunculan nama-nama itu bukan atas keinginan pribadi ataupun golongan. Pasalnya pengusulan dari semua fraksi dan dewan. Sehingga sudah berbau politis dan tidak bisa pribadi.
“Kita tahu pak Dedi cukup lama menjadi camat paham kota Bandung. Pak Ema beliau sekarang Sekda paham bagaimana kondisi Kota Bandung, dan Prof Muradi sebagai timja paham juga,” jelasnya.
Pemunculan ketiga nama itu juga bukan atas desakan ketiga orang tersebut. Pasalnya dewan tidak diperbolehkan memanggil apalagi melakukan seleksi.
“Kita tidak boleh dan tidak pernah bertemu dengan mereka. Kalaupun bertemu pak Ema tidak boleh membahas tentang itu dan memang kalau ketemu bukan masalah itu,” tutupnya.
Respon Ema Sumarna Saat Namanya Dipilih jadi Calon Pj Walkot Bandung
Menanggapi hal ini, Plh Wali Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan apresiasinya jika namanya disebut dalam bursa calon Pj Wali Kota Bandung yang diusulkan dewan.
“Ini menunjukan kita ada keselarasan dan keharmonisan antara eksekutif dan legislatif di Kota Bandung,” ujar Ema.
Ema sendiri mengaku, siapapun yang menajdi Pj Wali Kota nantinya harus bisa menjaga kodusifitas dalam pesta pemilu mendatang. Untuk itu, harus ada komunikasi yang baik antara legislatif, eksekutif teramsuk Forkopimda.
“Kita harus bisa menjangkau semua kalangan, melakukan sosialisasi, agar kondusifitas di Kota Bandung tetap terjaga,” terangnya.
Disinggung disebutnya nama Dedi Sopandi yang notabenenya adalah juniornya di lingkungan Pemkot Bandung, Ema mengatakan tidak akan ada ewuh pakewuh atau minder.
“Kalau sudah memakai seragam, ya kita sudah tau tupoksinya lah. Tidak akan ada ewuh pakewuh di antara saya dan Pak Dedi sebagai junior saya,” tegasnya. (put)







