CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASDUNIA

Wabah Infeksi Bakteri Pemakan Daging Merebak di Jepang

Hanna Hanifah
27 Juni 2024
bakteri pemakan daging

ilustrasi Kota di Jepang. (foto: Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Di Jepang, wabah infeksi bakteri pemakan daging, atau Streptococcus pyogenes, dilaporkan sedang merebak di seluruh wilayah.

Menurut data Institut Nasional Penyakit Menular Jepang (NIID), jumlah kasus sindrom toksik dari bakteri ini, yang dikenal sebagai streptococcal toxic-shock syndrome (STSS), hampir mencapai 1.000 kasus atau tepatnya 977 kasus dalam enam bulan sejak Januari 2024, seperti yang dilaporkan oleh The Japan Times di Tokyo, dilansir dari Antara News.

Baca juga:   Dua Ribu Warga Korea Selatan Dukung Timnas Indonesia

Bakteri ini dikenal sebagai pemakan daging karena kemampuannya merusak kulit, lemak, dan jaringan yang melapisi otot dengan cepat.

Gejala awal dari infeksi oleh Grup A Streptococcus (GAS) termasuk demam, nyeri, dan radang tenggorokan, tetapi dapat berkembang dengan sangat cepat dan menjadi ancaman serius bagi nyawa penderita karena dapat menyebabkan kegagalan organ dalam hitungan hari.

Bakteri dapat menyebabkan kondisi yang sangat serius jika berhasil menembus aliran darah dan jaringan dalam tubuh, di mana mereka mulai memproduksi eksotoksin yang merusak sel dan jaringan.

Baca juga:   Cairan Pink Retardan di Kebakaran Los Angeles

Kelompok usia paruh baya dan lansia di atas 50 tahun dianggap lebih rentan terhadap sindrom ini.

Gejala awal seperti demam dan nyeri dapat berubah menjadi penurunan tajam dalam tekanan darah dan kondisi yang memburuk dalam waktu 24 hingga 48 jam.

“Sebagian besar kematian terjadi dalam 48 jam. Ketika pasien merasakan pembengkakan pada kaki di pagi hari, ini dapat menyebar ke lutut pada siang hari dan dapat mengancam nyawa mereka dalam 48 jam,” kata Ken Kikuchi, seorang pakar penyakit menular dari Tokyo Women’s Medical University.

Baca juga:   Puluhan Unggas di Cimahi Mati karena Flu Burung

Sementara Kementerian Kesehatan Jepang belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kasus STSS ini.

Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan segera dan tindakan pencegahan yang ketat sangat diperlukan untuk mengatasi penyebaran infeksi yang serius ini. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: bakteri pemakan daginginfeksi bakterijepangStreptococcus pyogeneswabah di jepangwabah infeksi


Related Posts

gempa bumi jepang
HEADLINE

Jepang Catat 1.000 Lebih Gempa Bumi Dua Pekan di Wilayah Tokara

4 Juli 2025
Pelatih timnas Indonesia, Patrick Kluiert, saat memberikan keterangan kepada media pasca laga melawan Jepang, Selasa (10/6/2025). © PSSI PERS
HEADLINE

Timnas Indonesia K.O. 6-0! Patrick Kluivert Tak Bisa Berbuat Apa-Apa

11 Juni 2025
Brasil vs Jepang, Ajang Pembuktian Sebelum Piala Dunia 2026
HEADLINE

Brasil vs Jepang, Ajang Pembuktian Sebelum Piala Dunia 2026

31 Mei 2025

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.