CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Aweuhan Pasundan: Bagian I Religi “Etos Kerja Ki Sunda pada Bulan Puasa”

Hanna Hanifah
31 Juli 2024
pasundan

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Prof.Dr.H.M Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si.

Paguyuban Pasundan
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Seperti warga lingkungan budaya lain, orang Sunda pada umumnya tetap bekerja pada bulan Ramadan. Kegiatan berpuasa, sebagai salah satu manifestasi dari komitmen religius, tidak dijadikan alasan untuk mengurangi produktivitas. Dalam bahasa Sunda, misalnya, ada ungkapan “fardu kasambut, sunat kalampah” (tugas wajib terlaksanakan, tugas tambahan tidak ditinggalkan).

Di lingkungan budaya Sunda sebenarnya kegiatan berpuasa mempunyai dasar tradisinya sendiri, yang boleh jadi sudah terbentuk sejak zaman sebelum meresapnya nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, kita dapat memperhatikan tradisi mengadakan upacara kawalu di ulayat Kanekes, Banten.

Sebagaimana yang dipaparkan dalam Ensiklopedi Sunda (2000), upacara itu diselenggarakan setiap selesai panen ketika padi telah dimasukkan ke dalam leuit (gudang). Untuk merayakannya, warga Kenekes berburu di hutan dan menjaring ikan di sungai. Patut dicatat, hasil tangkapan mereka kemudian dijadikan lauk pauk untuk berbuka puasa. Singkatnya, di Kanekes pun masyarakat terbiasa berpuasa.

Baca juga:   Paguyuban Pasundan Ajak Seluruh Cabang Daerah Bantu Warga Terdampak Banjir

Kita dapat menginterpretasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut dalam kaitannya dengan etos kerja Ki Sunda. Padi yang dipanen dan disimpan dalam leuit jelas merupakan simbol produktivitas, buah keringat masyarakat yang giat bekerja dari hari ke hari. Dengan terkumpulnya hasil kerja keras itu, masyarakat tidak berfoya-foya, menghambur-hamburkan rajakaya untuk kegiatan yang sia-sia.

Sebaliknya, hasil kerja keras itu disimpan baik-baik di dalam tempat yang tertutup, bahkan sakral, sebagai cadangan kekuatan atau ketahanan pangan menjelang masa-masa yang akan datang. Pada momen inilah mereka berpuasa, mungkin sebagai ungkapan syukur tersendiri kepada kekuatan adikodrati yang senantiasa nangtayungan mereka.

Baca juga:   Memalukan! Persib Bandung Dicukur Persikabo di Laga Pamungkas

Dengan kata lain, secara tradisional, kegiatan berpuasa turut memberikan tekanan tersendiri pada tercapainya tingkat produktivitas tertentu,

Kegiatan berburu di hutan dan menjala ikan di sungai, yang hasil. nya akan dijadikan santapan berbuka puasa itu pun jelas merupakan kerja keras tersendiri. Sepertinya, dari tradisi itu ada pesan yang menegaskan bahwa jika orang tidak mau bekerja, mustahil orang bisa berbuka puasa.

Yang tidak kalah pentingnya untuk dicatat adalah pesan tersirat yang menekankan bahwa kegiatan berpuasa itu sendiri diwarnai dengan kerja keras mencari, mengumpulkan, dan mengolah bahan pangan. Islam sendiri mewajibkan umatnya melaksanakan puasa atau saum pada bulan Ramadan dengan tujuan yang sesungguhnya bersifat spiritual ketimbang fisikal.

Baca juga:   YPDM Pasundan Optimalkan Promosi dan PPDB Via Online

Dengan demikian, dapat kiranya kita merumuskan sebentuk titik persenyawaan antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya Sunda. Nilai-nilai Islam telah memberikan inspirasi tentang betapa pentingnya disiplin diri melalui saum sebagai manifestasi dari kepatuhan kepada Allah SWT. Di pihak lain, nilai-nilai budaya Sunda memberikan dasar-dasar tradisi yang memperlihatkan betapa kegiatan berpuasa sesungguhnya melekat erat pada kegiatan bekerja yang produktif.

Oleh karena itu, jika Ki Sunda berleha-leha pada bulan Ramadan, ja sesungguhnya mengkhianati nilai-nilai warisan karuhun-nya sendiri.Dalam budaya Sunda, maca, macul, macakal (membaca, bekerja, dan mengandalkan tenaga sendiri) adalah rawayan (jembatan) menuju kesejahteraan sosial. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: paguyuban pasundanpasundan


Related Posts

Pelantikan Paguyuban Pasundan Papua
HEADLINE

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Wilayah Paguyuban Pasundan se Tanah Papua

25 April 2026
Penghargaan Paguyuban Pasundan
HEADLINE

Paguyuban Pasundan Raih Penghargaan dari HU Pikiran Rakyat di HUT ke-60

25 April 2026
pasundan law fair 2026
HEADLINE

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.