CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Aweuhan Pasundan: Bagian II Religi “Nyeungeut Lodong, Ngojay, dan Jualan Kerupuk”

Hanna Hanifah
31 Agustus 2024
pasundan

Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter
Paguyuban Pasundan
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Oleh: Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Tak banyak sosok organisatoris yang berjuang membesarkan organisasi dengan berpijak pada spirit pengabdian. Satu dari segelintir orang itu adalah M Didi Turmudzi (70), Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, organisasi kesundaan berorientasi nasional tertua.

Namun, siapa menyangka kiprah panjang Didi dalam berorganisasi di berbagai lembaga, sejatinya memang sudah terpupuk sejak usia belia. Ingatan mengenang Ramadan di kala kecil dan remaja saat masih bercengkerama bersama teman-teman seusia di Desa Cimeong, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, pada kurun 1950-1960-an, menyajikan kisah tercecer bahwa seorang Didi ditakdirkan menjadi organisatoris sekaligus guru sepanjang hayat.

”Ya, lazimnya anak-anak di desa, kebiasaan menghabiskan Ramadan biasanya tak jauh dari nyeungeut lodong (menyalakan meriam karbit) menjelang Magrib atau setelah sahur dan salat Subuh. Itu kenangan yang tak terlupakan di saat saya berumur 7-9 tahun,” ungkap Didi Turmudzi yang juga menjabat Direktur Pascasarjana Universitas Pasundan.

Baca juga:   Final Ideal NBA 2025 Terwujud, Thunder vs Pacers

Suara lodong yang menggelegar terbawa angin menjadi daya tarik karena juga akan dibalas suara yang sama dari lodong di seberang bukit. “Kebetulan rumah ayah terletak di atas, sedangkan jalan ada di bawah dengan pemandangan yang luas. Kenangan indah yang masih membekas Sampai saat ini,” ujar pria yang sejak dulu sampai saat ini tetap panceg berkiprah sebagai pendidik ini.

”Ari pasisiang tabuh 13 atanapi 14, kapungkur mah sok ngojay, kirang langkung dugi yuswa SMP, Aliran Sungai Cipageur biasanya dipendet oleh teman-teman menggunakan batu-batu, sehingga tercipta ‘kolam’ di tengah sungai. Kami berenang, bergembira, sekaligus menunggu datangnya Asar,” katanya.

Baca juga:   Sekilas Paguyuban Pasundan: Menghitung Kekuatan (1)

Beranjak agak remaja usia SMP, Didi tak lagi sekadar bermain dalam menjalani Ramadan. Meski orangtuanya, Asrori, tergolong mampu secara ekonomi dan merupakan tokoh agama di lingkungannya, Asrori adalah Ketua MPP Persatuan Umat Islam (PUI) dan mempunyai pabrik kerupuk yang menjadi sumber ekonomi termasuk dalam pembiayaan sekolah Didi.

Ia sudah ditempa untuk bertani, beternak, dan ikut berjualan dan berbelanja bahan-bahan pembuatan kerupuk. “Saya masih ingat membeli aci bahan kerupuk di toko kepunyaan Pak Koyo di Cinyasag. Rupanya, Bapak (ayahanda Didi) memang sudah menanamkan nilai-nilai wirausaha selain atikan (pendidikan),” ujarnya.

Baca juga:   Kepala Kejati Jawa Barat Silaturahmi ke PB Paguyuban Pasundan

Didi juga kerap ikut ayahanda berkeliling mengisi ceramah pengajian dari kampung ke kampung. Ia sendiri bahkan menjadi salah seorang anggota tagoni yang ikut tampil dalam pengajian. “Sejak itu, saya juga aktif berorganisasi baik di sekolah maupun masyarakat. Kiprah itu semakin kuat ketika saya mengambil sekolah guru dan berkuliah di IKIP Bandung pada 1970-an,” ujarnya.

Didi selalu menjadi ketua kelas di SD sampai SMP. Didi ketua ranting PI (sayap muda Masyumi,), saat berkuliah ia aktif di karang taruna, BKTG, dan kemudian KAPPI.Tak heran, jika ada yang menilai sosok Didi adalah perekat komunikasi dan menjalin kembali silaturahmi yang renggang atau putus sama sekali. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: Milangkala Paguyuban Pasundan Ke-111paguyuban pasundanpasundan


Related Posts

Pelantikan Paguyuban Pasundan Papua
HEADLINE

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Wilayah Paguyuban Pasundan se Tanah Papua

25 April 2026
Penghargaan Paguyuban Pasundan
HEADLINE

Paguyuban Pasundan Raih Penghargaan dari HU Pikiran Rakyat di HUT ke-60

25 April 2026
pasundan law fair 2026
HEADLINE

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.