PALEMBANG, WWW.PASJABAR.COM– Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, MSc, adalah sosok inspiratif yang membuktikan bahwa mimpi besar dapat terwujud dengan kerja keras dan ketekunan.
Lahir di Desa Jelabat BK 9, OKU Timur, Sumatera Selatan pada 4 Oktober 1972, Iskhaq tidak pernah menyerah walaupun hidupnya penuh tantangan. Berkat perjuangan dan semangatnya, kini ia telah meraih gelar Guru Besar di Universitas Sriwijaya.
Sejak kecil, Iskhaq tumbuh di lingkungan yang terbatas. Desa tempat ia dibesarkan baru merasakan listrik ketika ia duduk di bangku kelas 2 SD, dan itupun berkat usaha warga desa yang membeli mesin diesel. Namun, keterbatasan itu justru membangkitkan tekadnya untuk maju. Menurut Iskhaq, mimpi adalah kunci untuk mencapai kesuksesan.
“Ketika kita tidak punya mimpi, keinginan kita untuk maju tidak akan ada dorongannya,” ujarnya dalam sebuah webinar yang diadakan oleh SEVIMA pada Rabu, (4/9/2024).
Untuk melanjutkan pendidikan ke Palembang, Iskhaq harus menempuh jalan yang berat. Dengan uang saku hanya Rp 50 ribu per bulan, ia harus membagi pengeluarannya untuk biaya kuliah, tempat tinggal, dan makan.
Demi bertahan hidup, Iskhaq bekerja sebagai kondektur bus kota. Walau sempat merasa malu ketika teman-teman kampus melihatnya, ia tetap teguh karena pendidikan adalah prioritas utama.
“Bahkan, istri saya, Silviana, ketemunya saat saya jadi kondektur. Meskipun malu, saya lebih memilih malu daripada tidak makan,” kenang Iskhaq. Selain itu, ia juga bekerja sebagai kuli panggul di pasar untuk menambah penghasilannya. Semua pengorbanan ini dilakukan demi meraih impiannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Iskhaq sempat bekerja di sebuah bank sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi dosen di Universitas Sriwijaya pada tahun 1996. Pilihan itu membuka jalannya untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Universitas Tokyo, Jepang. Studi tersebut mengantarkannya menjadi ahli dalam bidang oseanografi dan iklim tropis, bidang yang menjadi fokusnya hingga saat ini.
Kini, sebagai Guru Besar dan Kepala LLDIKTI Wilayah II, Prof. Iskhaq memiliki peran besar dalam membina perguruan tinggi di Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung. Baginya, ilmu pengetahuan harus bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.
“Ini tanggung jawab besar, mengantarkan cita-cita republik dan para pendiri Indonesia,” katanya.
Sebagai ayah dari tiga anak, Nadiah, Farid, dan Fakhirah, Iskhaq terus memberikan inspirasi kepada generasi muda agar jangan takut bermimpi.
“Keberhasilan itu diusahakan dengan kerja keras, ketekunan, dan kerja cerdas. Mahasiswa Sumatera harus bisa mendunia, dan perguruan tinggi kita harus mampu bersaing di kancah internasional,” pungkasnya. (*/tiwi)







