WWW.PASJABAR.COM — Pemain Timnas Indonesia, Wak Haji mengungkapkan gaya bermain bola di Indonesia berbeda dengan negara lain. Menurutnya ini menjadi tantangan tersendiri.
Dalam ceritanya, Ragnar Oratmangoen yang akrab disapa Wak Haji ini sebut gaya main bola Belanda dengan Indonesia berbeda.
Hal inilah yang buat dirinya harus beradaptasi dengan cepat.Mengingat ia datang sebagai pemain keturunan (naturalisasi).
Ragnar atau Wak Haji ini akui harus lebih kerja keras. Usaha sebagai penyesuaian dirinya.
Hal ini disampaikan Wak Haji saat podcast bersama Mamat Alkatiri di kanal YouTube Sport77 Official, dikutip Sabtu (7/12/2024).
“Di Belanda, semua orang ingin bermain sepak bola yang baik dari belakang,” ungkap penyerang milik FC Groningen itu.
“Di Indonesia, yang pertama kali dilakukan adalah kerja keras dan berlari dan tidak bermain bola seperti itu (operan pendek).” jelas Wak Haji.
Saat ditanya soal perbedaan sepak bola Indonesia dan Belanda, Wak Haji pun menyebutkan ada perbedaan amat besar dari kedua negara itu.
Baginya gaya bermain sepak bola di Indonesia lebih banyak berlari dan umpan jauh. Hal ini berbeda dengan Belanda yang banyak memainkan umpan pendek.
“Saat kalian tidak bisa bermain operan pendek, maka bermain operan panjang. Di Belanda, mereka tidak menyukai bermain dengan operan jarak jauh,” jelas Ragnar.
Warga Indonesia tingkat toleransinya tinggi
Perlu diketahui, Wak Haji merupakan keturunan Belanda dan Indonesia. Ia sangatlah menyukai Tanah Air karena warganya yang toleran.
Ragnar Oratmangoen yang berstatus mualaf ternyata lahir dari keluarga non-muslim beragama Nasrani.
Ia mengaku merasa lebih nyaman dan menyenangkan di Indonesia karena tingkat toleransinya tinggi.
Bahkan ia mengaku di sini bebas mendengarkan azan kapanpun, di manapun. Ini juga jadi salah satu alasannya nyaman di Indonesia.
“Indonesia mayoritas beragama islam, dan bagaimana pandangan kamu jika dibandingkan dengan eropa yang cukup bebas?,” tanya Mamat sebagai host.
“Sebenarnya tidak begitu sulit di Belanda. Namun kamu tidak akan sebebas yang diinginkan,” jawab Ragnar Oratmangoen.
“Sebab mereka orang Belanda sangat mudah mengudge orang lain, berbeda dengan saya Indonesia,” jelas Wak Haji itu.
Sehubungan dengan ia mualaf, ia menceritakan bukan tidak mudah.
Namun rasa itu muncul disaat, ia kerap diajak teman-temannya semasa kecil.
Berawal teman-temannya sering mengajaknya ke Masjid. Di sana ia memulai, eksplorasi da pikirnya untuk mengenal agama islam dengan baik.
“Bagi saya, yang saya pikirkan adalah belajar tentang Tuhan. Tentu saja juga teman saya yang beberapa kali membawa saya ke masjid,” pungkas Ragnar Oratmangoen.







