CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Tiga Pilar Korporatokrasi

Hanna Hanifah
30 Desember 2024
Korporatokrasi

ilustrasi. (foto: theguardian.com)

Share on FacebookShare on Twitter
Prof Didi Turmudzi
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Oleh: Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si, Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan (Korporatokrasi)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Sebuah dunia di mana segelintir entitas memiliki kendali atas hampir semua aspek kehidupan kita—dari pekerjaan hingga kebijakan pemerintah, dari kebijakan ekonomi hingga perang. Dunia ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi sebenarnya inilah realitas dari “korporatokrasi,” sebuah istilah yang mengacu pada kolusi antara korporasi besar, bank internasional, dan pemerintah yang korup. Di balik layar, mereka menjalankan permainan besar yang memperkaya segelintir orang, sementara mayoritas manusia tetap terjebak dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Korporasi Multinasional: Raksasa Tanpa Hati

Korporasi multinasional adalah salah satu pilar utama korporatokrasi. Mereka adalah raksasa yang melintasi batas negara, mengejar keuntungan tanpa peduli dengan dampak sosial atau lingkungan yang mereka timbulkan. Contoh nyata dari kekuatan destruktif ini dapat dilihat pada perusahaan minyak besar di Ekuador. Perusahaan-perusahaan ini mengeksploitasi sumber daya alam hutan hujan, meninggalkan kerusakan lingkungan yang tak terbayangkan, sambil hanya menyisakan sedikit untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Dari setiap $100 minyak mentah yang dihasilkan, hanya $250 yang dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, sementara sebagian besar keuntungan dibawa pulang ke negara asal korporasi.

Baca juga:   Inilah Prediksi Jumlah Pemudik Naik Kereta Api

Bank-Bank Internasional: Pencetak Utang Abadi

Bank internasional, yang sering kali berkolusi dengan bank sentral, menjadi pilar kedua dari korporatokrasi. Mereka menawarkan pinjaman kepada negara-negara berkembang dengan syarat-syarat yang tampaknya menguntungkan, tetapi sebenarnya dirancang untuk memerangkap negara-negara tersebut dalam lingkaran utang yang tidak pernah berakhir. Misalnya, di banyak negara Afrika, pinjaman yang awalnya dimaksudkan untuk pembangunan infrastruktur berubah menjadi beban utang yang menguras sumber daya negara, memaksa mereka untuk terus berutang demi membayar bunga. Sebagian besar keuntungan ini, tentu saja, mengalir kembali ke bank-bank internasional tersebut, memperkaya segelintir elit global.

Baca juga:   Fakta Menarik di Balik Gelar Juara Persib

Pemerintah Korup: Pengawal Kepentingan Elit

Pilar ketiga dari korporatokrasi adalah pemerintah korup yang bekerja sama dengan korporasi dan bank untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Pemerintah-pemerintah ini sering kali dipimpin oleh individu-individu yang lebih peduli dengan kekayaan pribadi daripada kesejahteraan rakyatnya. Contoh tragis dari kolusi ini terjadi di Panama pada era Jenderal Omar Torrijos. Torrijos, yang menolak tunduk pada kekuasaan korporasi Negara Adidaya, akhirnya digantikan oleh Manuel Noriega, seorang diktator yang lebih mudah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan korporat Negara Besar tersebut. Setelah Noriega tidak lagi berguna, ia pun disingkirkan, menunjukkan betapa mudahnya korporatokrasi mengganti pemimpin yang tidak sesuai dengan agenda mereka.

Baca juga:   Merkurius Ternyata Punya Lapisan Berlian, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Korporatokrasi adalah mesin uang global yang berjalan dengan tiga pilar utamanya: korporasi multinasional, bank internasional, dan pemerintah korup. Melalui contoh-contoh nyata yang diuraikan di atas, kita dapat melihat betapa kuatnya cengkeraman mereka terhadap negara-negara berkembang dan bagaimana mereka mengarahkan aliran kekayaan global ke kantong-kantong elit, sambil meninggalkan mayoritas populasi dunia dalam kemiskinan. Memahami struktur ini adalah langkah pertama menuju perlawanan dan upaya untuk menciptakan sistem global yang lebih adil dan manusiawi. Dalam kondisi seperti ini telah hadir sosok pahlawan Jenderal Prabowo Subianto memimpin bangsa ini untuk survive. Selamat berjuang Pak Jenderal menjalani Qadarullah. Aamiin. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: KorporatokrasiOpini


Related Posts

sppg
HEADLINE

SPPG di Kampus: Menyatukan Ilmu dan Pengabdian

30 April 2026
protein dalam makanan
HEADLINE

Protein dalam Makanan

30 April 2026
pongah
HEADLINE

Pongah dan Ilusi Ketinggian Diri

28 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.