CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Ukuran Harimau Jawa Kini Sebesar Kambing???

pri
14 Januari 2025
Ukuran Harimau Jawa Kini Sebesar Kambing???

Foto tahun 2018 yang disebut sebagai harimau Jawa di sebuah hutan di Jawa Tengah (Peduli Karnivor Jawa)

Share on FacebookShare on Twitter

WWW.PASJABAR.COM — Beberapa minggu lalu beredar video yang memperlihatkan seorang pria bernama Anang mengaku berjumpa dengan harimau Jawa.

Saat itu ia sedang menyemprot tanaman di tepi hutan sekitar Jawa Tengah-DIY, saat matanya tertuju pada dua ekor macan besar dan kecil yang sedang berbaring.

Menurutnya, hewan yang dilihat adalah harimau karena memiliki pola loreng di tubuhnya. Namun ukuran macan ini disebut hanya sebesar kambing, walau lebih gemuk dan kekar.

Kesaksian lain yang disampaikan petani bernama Damin di hutan sekitar Gunung Wilis juga menyebutkan ukuran harimau yang dijumpainya sebesar kambing.

Sementara kesaksian seorang penjaga hutan di Ujung Kulon belum lama ini menyebut pernah melihat harimau berukuran sebesar anjing herder.

Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah benar yang mereka lihat itu harimau, atau macan tutul dan kucing lain yang ukurannya memang lebih kecil?.

Atau bila benar yang dijumpai adalah harimau, apakah spesies endemik yang tersisa di Jawa ukurannya mengecil?.

Harimau Jawa lebih besar dari harimau Sumatra dan harimau Bali

Hal ini menarik dibahas karena berdasarkan catatan, ukuran harimau Jawa adalah yang terbesar dibanding harimau Sumatra dan harimau Bali.

“Harimau Jawa ukurannya bisa sebesar kuda, dan telapaknya selebar wajah orang dewasa,” ujar peneliti harimau, Didik Raharyono.

Menurutnya, berdasarkan foto-foto harimau yang mati ditembak di jaman dulu, terlihat ukurannya yang besar, lebih besar dari ukuran harimau sumatra yang dijumpai saat ini.

Baca juga:   Pengunjung Bisa Beri Makan Harimau Langsung di Lembang Park Zoo
Foto harimau Jawa berkuran besar yang ditembak di perkebunan karet Kendeng Lembu, Jawa Timur, tahun 1957. (Ist)

Gambaran morfologi ukuran tubuh yang bisa dicapai oleh harimau Jawa antara lain terlihat di foto dokumen tahun 1957, yang menggambarkan seorang pemburu bernama Oscar bersama harimau buruannya di Kendeng Lembu, Banyuwangi.

Dalam foto itu, terlihat betapa harimau Jawa memiliki ukuran tubuh sangat besar, dengan tapak kaki selebar wajah manusia, yang konon bisa membunuh seekor sapi dengan sekali hantam.

Berbagai catatan dari peneliti Belanda juga menyebutkan ukuran rata-rata harimau Jawa lebih besar dari harimau Sumatera dan harimau Bali, bahkan sedikit lebih besar dari harimau Malaya dengan panjang rata-rata 200-245 cm.

Berat jantan berkisar antara 100-140 kg dan betina berkisar antara 75-115 kg.

Babad Lakbok jadi pembeda

Cerita soal ukuran harimau Jawa juga tertuang dalam Babad Lakbok, sebuah naskah sejarah yang ditulis R. Muh. Sabri Wiraatmadja mulai 1925 dan selesai tahun 1937.

Lakbok adalah nama tempat yang asalnya merujuk pada keberadaan harimau besar di sana.

Menurut R. A. Danadibrata dalam Kamus Bahasa Sunda, “Lakbok” adalah bahasa Sunda kuno yang artinya maung nu gedé pisan (harimau yang sangat besar).

Nama ini dilekatkan pada seekor harimau besar yang hidup di daerah lahan gambut di Ciamis.

Baca juga:   Paguyuban Pasundan Ingin Ciptakan Wirausahawan Dengan 4 Karakter
Foto tahun 1920 memperlihatkan Harimau Jawa yang dibunuh di Preanger, dekat Garut, Jawa Barat. (Ist)

Saat hutan dan rawa dibuka untuk dijadikan permukiman dan lahan pertanian, para binatang pun terdesak dan pergi menjauh, salah satunya yaitu lakbok.

Harimau besar yang mulai kehabisan tempat bersembunyi itu kabur ke hutan Cimadang di daerah Padaherang dan menyerang manusia, namun akhirnya mati dikepung pemburu.

Dalam jurnal Planning Tiger Recovery: Understanding Intraspecific Variation for Effective Conservation, Wilting et al. Sci. Adv. 2015;1:e1400175, juga disebutkan bahwa harimau Jawa merupakan subspesies terbesar di Kepulauan Sunda, diikuti harimau Sumatera dan Bali.

Kurangnya makanan dan inbreeding jadi penyebab

Lalu mengapa cerita orang-orang yang mengaku bertemu harimau loreng menyebutkan ukurannya hanya sebesar kambing?.

Menurut Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wirdateti, hewan karnivora seperti harimau bisa mengecil ukurannya karena mangsanya makin sedikit sehingga ukuran tubuh keturunan selanjutnya menyesuaikan diri.

Selain itu, jika benar yang ditemukan adalah harimau Jawa, maka faktor kelangkaan juga berpengaruh.

Tidak adanya harimau lain menyebabkan hewan itu kawin sedarah atau inbreeding, yang akhrnya mempengaruhi kualitas keturunannya, antara lain menjadi lebih kecil.

“Mungkin harimau Jawa sekarang menjadi lebih kecil karena selain mangsa makin sedikit, juga karena mereka kawin sedarah atau inbreeding sehingga mempengaruhi pertumbuhan keturunannya,” ujar Widarteti.

Baca juga:   Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Mati Diduga Terinfeksi Virus

Inbreeding, yaitu perkawinan antara individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, dapat memberikan dampak negatif pada mamalia.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa inbreeding dapat memengaruhi kesehatan, reproduksi, dan keberlangsungan populasi mamalia.

Inbreeding mengurangi variasi genetik dalam populasi. Hal ini disebabkan karena individu yang kawin memiliki alel yang lebih mirip.

Penurunan keanekaragaman genetik membuat populasi lebih rentan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan, karena mereka memiliki kemampuan adaptasi yang terbatas.

Individu hasil inbreeding sering menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah, pertumbuhan lambat, atau kelemahan fisik.

Dalam populasi kecil, inbreeding dapat mempercepat penurunan jumlah individu, meningkatkan risiko kepunahan karena ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan atau serangan penyakit.

Hal itu senada dengan pernyataan ekolog satwa liar sekaligus peneliti harimau, Sunarto.

Menurutnya, agar dapat bertahan hidup dan terus berkembang biak dalam jangka waktu yang panjang, ada populasi minimal suatu jenis satwa dengan populasi minimal sebanyak 50 ekor untuk dapat melawan sindrom kawin sedarah, dan 500 individu untuk menjaga kestabilan genetik.

Artinya, bila yang dijumpai para saksi itu memang benar harimau Jawa, maka ukurannya yang kecil bisa diduga akibat variasi genetiknya yang terbatas karena jumlah individu yang sangat sedikit.

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: harimau


Related Posts

harimau benggala
HEADLINE

Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Mati Diduga Terinfeksi Virus

26 Maret 2026
Melihat Harimau Siberia dan Bengala dari Dekat di Kebun Binatang Bandung
PASBANDUNG

Melihat Harimau Siberia dan Bengala dari Dekat di Kebun Binatang Bandung

4 Januari 2024
Pengunjung Bisa Beri Makan Harimau Langsung di Lembang Park Zoo
PASBANDUNG

Pengunjung Bisa Beri Makan Harimau Langsung di Lembang Park Zoo

20 Oktober 2023

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.