CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Sabtu, 9 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASNUSANTARA

Jejak yang Tak Terkubur, Merawat Ingatan dari Benteng Pendem hingga Bong Londo

Tiwi Kasavela
16 April 2025
Jejak yang Tak Terkubur, Merawat Ingatan dari Benteng Pendem hingga Bong Londo

Temu Sejarah menggelar kegiatan walking tour di Ngawi, Minggu (13/4/2025). (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Di balik tenangnya kota Ngawi yang sering dilewati dalam perjalanan lintas Jawa, tersembunyi serpihan cerita masa lalu yang menggugah. Dari benteng tua yang disebut Benteng Pendem, hingga kompleks pemakaman kolonial yang dikenal dengan nama Bong Londo, jejak-jejak sejarah itu kembali mengemuka lewat langkah-langkah para pegiat Temu Sejarah Indonesia.

Temu Sejarah Explore #3 yang dilaksanakan pada Minggu, 13 April 2025, menjadi ruang temu yang bukan hanya fisik, tapi juga emosional dan intelektual. Bersama Komunitas Sadar Lestari Ngawi, para peserta menyusuri lorong waktu, mencoba membaca kembali masa lalu yang tercetak diam di batu bata dan nisan-nisan tua.

Baca juga:   Menelusur Gurat Holle: Saat Aksara Latin Mengubah Peta Politik Sunda

Founder Temu Sejarah, Tiwi Kasavela, menyebut bahwa ide eksplorasi ini bermula dari obrolan santai antaranggota yang berdomisili di Ngawi.

“Awalnya cuma ngobrol biasa, lalu berkembang jadi wacana eksplorasi yang nyata. Karena kami percaya, sejarah bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dialami langsung,” tutur Tiwi.

Benteng Van den Bosch, lebih dikenal warga sebagai Benteng Pendem—dibangun pada 1845, tak lama setelah berkecamuknya Perang Diponegoro. Dulu difungsikan sebagai markas militer Belanda, benteng ini kini berdiri sebagai saksi bisu bagaimana kolonialisme mencengkeram Nusantara. Tidak jauh dari sana, Bong Londo, kompleks pemakaman Belanda yang dibangun pada 1885, menguatkan nuansa nostalgia sejarah yang dalam.

Baca juga:   Belinyu Bela Palestina, Kumpulkan Dana 35 Juta

Yang menarik, perjalanan ini bukan hanya tentang batu, arsitektur, dan fakta-fakta lama. Ini adalah tentang koneksi antarmanusia yang dibangun lewat sejarah. Para peserta datang dari Bandung, Solo, Blora, Madiun, hingga Malang—berkumpul untuk satu tujuan: menghidupkan kembali kisah yang nyaris dilupakan.

“Ini bukan sekadar napak tilas, kami ingin membangun kesadaran, bahwa sejarah itu hidup, dan kita adalah bagian darinya,” ungkap Tiwi.

Meski diselenggarakan dalam waktu yang cukup singkat, antusiasme peserta luar biasa. Masing-masing datang dengan semangat belajar dan berbagi, menjadikan kegiatan ini bukan hanya eksplorasi, tapi juga ruang diskusi yang hangat. Dari saling bertanya soal arsitektur kolonial, hingga berbagi kisah pribadi tentang hubungan mereka dengan kota-kota sejarah.

Baca juga:   Presiden Perintahkan Menteri Dan Pejabat Ber-Zakat Di Istana Negara

Temu Sejarah tak berhenti di sini. Menurut rencana, eksplorasi akan berlanjut ke Malang dan Jakarta pada Mei dan Juni 2025. Semakin banyak kota yang dikunjungi, semakin banyak cerita yang disulam kembali ke dalam kesadaran kolektif.

Ngawi, dalam perjalanan ini, menjadi lebih dari sekadar lokasi. Ia menjadi tokoh—diam, namun berbicara lewat setiap tembok yang mengelupas dan jalan setapak yang pernah dilalui serdadu-serdadu asing.

“Kita bukan sekedar pelancong, kita adalah pewaris. Dan kita harus terus menjaga cerita-cerita ini agar tak terkubur waktu,” tutupnya. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: ngawiSejarahTemu Sejarah


Related Posts

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram
PASNUSANTARA

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram

4 Mei 2026
Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa
PASNUSANTARA

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

13 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.