CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASKREATIF

Idhar Resmadi : Jurnalisme Musik adalah Arsip Perjalanan Musik Kita

Tiwi Kasavela
10 September 2025
Idhar Resmadi : Jurnalisme Musik adalah Arsip Perjalanan Musik Kita

Ist

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— “Jurnalisme musik bukan sekadar menulis konser atau album. Ia adalah arsip, catatan sejarah, dan ruang kritik yang menjaga musik tetap hidup.” Demikian ditegaskan Idhar Resmadi, penulis Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya, dalam diskusi Kamisan Aksara #11 yang digelar pada Kamis (4/9/2025).

Acara yang dipandu oleh Foggy FF ini membedah buku Idhar yang menyoroti praktik jurnalisme musik di Indonesia, sekaligus membandingkannya dengan tradisi jurnalisme musik di luar negeri. Idhar juga menyinggung gaya jurnalisme sastra ala gonzo, di mana subjektivitas penulis memberi warna personal dalam mengupas karya musik.

Baca juga:   UFO dari Perspektif Fenomenologi: Antara Sains, Imajinasi, dan Keyakinan

Diskusi semakin hangat saat menyinggung peran kecerdasan buatan (AI) dalam musik. Saat ini, AI bisa menciptakan lagu, mengaransemen, bahkan meniru suara musisi.

“AI hadir sebagai data yang berulang-ulang. Tapi musik selalu butuh sentuhan manusia agar tidak kehilangan kreativitas dan keunikan,” jelas Idhar.

Isu lain yang ikut mengemuka adalah pentingnya penghargaan musik. Idhar menyebut award bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan publik dan industri.

Baca juga:   Membaca Franz Junghuhn, Menelusuri Jejak Ilmuwan yang Menyatu dengan Alam

“Penghargaan memang bukan ukuran kualitas, tapi ia bisa menjadi tanggung jawab sosial bagi musisi untuk terus berkarya,” tambahnya.

Di akhir diskusi, Idhar menegaskan kembali bahwa meski media kini berada di persimpangan, jurnalisme musik tetap penting untuk mengenali karya lebih mendalam sekaligus mengarsip perjalanan musik Indonesia.

Bagi yang belum sempat hadir, siaran ulang diskusi ini dapat disimak di akun Instagram @sindikasi.aksara. Jangan lewatkan juga edisi Kamisan Aksara berikutnya untuk terus membuka ruang apresiasi bagi sastra, seni, dan sejarah. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Jurnalisme Musiksindikasi aksara


Related Posts

Kamisan Aksara Bedah Misteri Bandoengsch Villapark dalam Buku Karya Karguna Purnama Harya
PASJABAR

Kamisan Aksara Bedah Misteri Bandoengsch Villapark dalam Buku Karya Karguna Purnama Harya

24 Desember 2025
Kamisan Aksara Bedah Buku “Baroe Adjak”, Ungkap Sejarah Tua Kawasan Lembang
PASJABAR

Kamisan Aksara Bedah Buku “Baroe Adjak”, Ungkap Sejarah Tua Kawasan Lembang

18 Desember 2025
Oxford 1836 dan Babel: Refleksi Sosial Lewat Fiksi RF Kuang
PASKREATIF

Oxford 1836 dan Babel: Refleksi Sosial Lewat Fiksi RF Kuang

9 Desember 2025

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.