KAB BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Di sudut Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, seorang balita berusia delapan bulan menjalani kehidupan yang tidak sepadan dengan ringkihnya usia.
Ia harus berjuang melawan gizi buruk sekaligus bibir sumbing, kondisi yang memperlambat pertumbuhan dan merampas ceria masa kecil yang seharusnya ia nikmati.
Ironisnya, ketika usianya baru dua bulan, sang bayi ditinggalkan ayahnya tanpa kabar. Sejak saat itu, sang anak hanya bergantung pada kasih ibu dan neneknya—dua perempuan kuat yang hidup dalam ketidakpastian.
Keduanya mencari nafkah dengan berjualan jajanan keliling, sekadar untuk memastikan ada makanan di meja setiap harinya.
Kondisi memilukan ini terungkap setelah adanya laporan masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti oleh patroli gabungan kepolisian dan TNI. Mengetahui hal tersebut, Polsek Pameungpeuk bersama unsur Forkopimca langsung mendatangi rumah tempat balita tersebut tinggal.
Penanganan Petugas dan Bantuan untuk Keluarga
“Awalnya kami mendapat laporan masyarakat bahwa ada balita yang mengalami bibir sumbing dan stunting. Kemudian saya menghubungi Pak Danramil.
Setelah dicek Bhabinkamtibmas dan Babinsa, ternyata memang benar adanya,” ujar Kapolsek Pameungpeuk, AKP Asep Dedi, saat berada di lokasi, Selasa (26/11/2025).
Kehadiran petugas memecah air mata sang nenek yang selama ini ikut merawat cucunya seorang diri setelah ditinggal suami meninggal dunia. Tangis itu pecah ketika Kapolsek bersama Forkopimca memberikan bantuan dan memastikan balita tersebut mendapatkan penanganan yang layak.
“Kita juga berikan bantuan kepada sang ibu. Hari ini kami sepakat bersama Pak Danramil dan Pak Camat, mudah-mudahan minggu ini kita akan berikan bantuan modal usaha untuk si teteh (ibu balita) karena dia jualan,” kata AKP Asep Dedi.
Sang ibu, Refani, menceritakan bahwa kondisi gizi buruk mulai tampak ketika anaknya berusia dua bulan. Saat sang bayi berumur tiga bulan, suaminya pergi dan tidak pernah kembali.
“Saya ditinggal suami waktu usia bayi saya 3 bulan, karena bayi saya mengalami bibir sumbing. Setelah itu dia lepas tanggung jawab, tidak kasih nafkah dan tidak kasih untuk beli susu. Sekarang kondisi anak saya kecil dan berat badannya kurang,” tutur Refani.
Selain bantuan kebutuhan pokok dan rencana modal usaha, pihak kepolisian bersama pemerintah setempat juga membantu pengurusan BPJS. Upaya ini dilakukan agar sang balita bisa mendapatkan perawatan rutin di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan secara gratis. (fal)






