www.pasjabar.com — Pencarian pelatih baru untuk Timnas Indonesia pasca pemecatan Patrick Kluivert semakin memanas. Nama terbaru yang mencuat dan menarik perhatian adalah John Gijsbert Alan Heitinga, atau yang akrab disapa John Heitinga. John Heitinga yang masuk dalam radar Calon Pelatih Timnas Indonesia ini menambah daftar panjang kandidat yang dibidik PSSI.
Masuknya Heitinga ke dalam pusaran calon pelatih Skuad Garuda ini sejalan dengan pernyataan Waketum PSSI, Zainudin Amali, yang sebelumnya membocorkan bahwa pelatih timnas selanjutnya kemungkinan masih berasal dari Negeri Kincir Angin.
Heitinga akan bersaing dengan nama-nama beken lain yang sudah lebih dulu mengapung, seperti Giovanni Van Bronckhorst (juga dari Belanda), serta beberapa kandidat non-Belanda seperti Timur Kapadze, Jesus Casas (Spanyol), dan John Herdman (Inggris). Dengan rekam jejaknya yang gemerlap baik sebagai pemain maupun pelatih, Heitinga dipandang punya modal yang kuat untuk memenuhi tolok ukur yang diminta PSSI.
Rekam Jejak John Heitinga Calon Pelatih Timnas Indonesia
Lahir pada 15 November 1983, John Heitinga saat ini berusia 42 tahun dan memiliki pengalaman panjang di level tertinggi sepak bola Eropa. Kariernya dimulai dan memuncak di Belanda bersama Ajax Amsterdam, di mana ia berhasil memenangkan gelar Eredivisie, KNVB Cup, dan Johan Cruyff Shield.
Heitinga juga dikenal sebagai “tukang jagal” pertahanan Timnas Belanda, pernah membela De Oranje di Piala Dunia 2006 dan 2010.
Karier centre-back tangguh ini juga membawanya berkeliling Eropa:
-
La Liga Spanyol: Memperkuat Atlético Madrid.
-
Liga Inggris: Bermain untuk Everton dan kemudian Fulham.
-
Bundesliga Jerman: Sempat sebentar membela Hertha BSC.
Heitinga akhirnya mudik ke Ajax dan memutuskan gantung sepatu pada tahun 2016.
Karier Melatih: Naik Pangkat dan Hasil Buruk di Ajax Senior
Setelah pensiun, kecintaan Heitinga terhadap sepak bola mengarahkannya ke dunia kepelatihan. Ia mengawali kariernya dengan menangani tim muda Jong Ajax, sebelum akhirnya naik pangkat menjadi pelatih kepala tim senior De Godenzonen jelang bergulirnya musim 2025/2026.
Sayangnya, karier Heitinga sebagai pelatih kepala tim senior Ajax tidak berjalan mulus. Kontraknya yang seharusnya berjalan hingga 30 Juni 2027 harus berakhir prematur beberapa waktu lalu. Pemutusan kontrak ini terjadi menyusul rentetan hasil buruk yang dituai Ajax di awal musim 2025/2026.
Meskipun harus menghadapi kegagalan di level klub senior, pengalaman Heitinga yang matang di berbagai liga top Eropa dan pengalamannya dalam membangun tim muda Ajax (Jong Ajax) bisa menjadi nilai jual yang menarik bagi PSSI.
Pertimbangan PSSI: Kualitas dan Keterkaitan Belanda
Jika PSSI benar-benar memprioritaskan pelatih dari Belanda, maka persaingan akan mengerucut pada Heitinga dan Giovanni Van Bronckhorst. Heitinga memiliki keunggulan berupa ketersediaan saat ini setelah kontraknya di Ajax berakhir.
Dengan pengalaman dan syarat yang terbilang gemerlap, mampukah PSSI menjatuhkan pilihannya pada sosok John Heitinga untuk memimpin Timnas Indonesia? Pilihan ini akan sangat bergantung pada evaluasi PSSI terhadap filosofi kepelatihan Heitinga dan apakah ia dianggap mampu mengatasi tantangan di Asia Tenggara, meski baru saja melewati periode sulit di klub lamanya.
Menarik untuk dinantikan langkah PSSI selanjutnya dalam menentukan arsitek baru Skuad Garuda.







