Bandung, www.pasjabar.com — Suasana penuh kepiluan sekaligus keteguhan menyelimuti Masjid Ar-Romly, yang berdiri sunyi di tengah rimbunnya hutan cemara Bandung Zoo. Di terasnya yang lembap, para karyawan menundukkan kepala, memejamkan mata, memanjatkan doa terbaik di hari Jumat. Karyawan Bandung Zoo berdoa di Masjid Ar-Romly demi satwa
Permintaan mereka tunggal: memohon pertolongan Allah SWT agar kabut yang menyelimuti nasib 711 satwa segera terurai.
Sejak pintu Bandung Zoo tertutup rapat pada 6 Agustus 2025—sudah empat bulan tanpa pemasukan—krisis finansial telah mencapai titik nol.
Namun, kehidupan 711 satwa di dalamnya tak pernah berhenti, dan mereka harus tetap makan setiap hari.
Itulah yang membuat setiap sujud para karyawan terasa lebih berat, menggabungkan ikhtiar lahiriah dan spiritual.
Karyawan Bandung Zoo Berdoa di Masjid Ar-Romly Demi Satwa
“Selain berusaha secara lahiriah, kami juga memanjatkan doa mengetuk pintu langit meminta pertolongan kepada Allah SWT,” ujar Sulhan Syafi’i, Humas Bandung Zoo, yang akrab disapa Aan. Suaranya tenang, namun ada guratan letih yang tak bisa disembunyikan.
Ikhtiar Kreatif: Modifikasi Menu Ekstrem Satwa Karnivora
Ketiadaan pemasukan telah memaksa karyawan untuk memutar otak dan melakukan modifikasi menu secara ekstrem demi mempertahankan nutrisi satwa.
Aan menjelaskan bahwa mulai 12 Desember 2025, karyawan harus lebih kreatif dalam menambal kebutuhan harian.
Krisis ini sangat terasa di menu satwa karnivora. Daging sapi yang mulai langka dan mahal terpaksa diganti dengan daging domba dan kambing.
“Kami sudah memotong tujuh ekor domba dalam sebulan terakhir. Semua dicampur dengan daging ayam. Setiap karnivor dapat lima kilogram ayam dan satu kilogram daging domba,” jelasnya.
Selain itu, kolam-kolam di area kebun binatang kini disulap menjadi penyedia pakan.
Ikan-ikan yang dulunya dibiarkan berkembang biak, kini dipanen untuk memenuhi kebutuhan satwa pemakan ikan, seperti burung dan berang-berang.
Harta Berharga dari Rumput Lapang dan Kebun Pisang
Kreativitas juga menyentuh pakan herbivora. Hamparan rumput lapang yang dulu dianggap biasa, kini sengaja dibiarkan tumbuh liar, melengkapi rumput gajah hasil tanam sendiri untuk mencukupi pakan.
Dua kebun pisang yang dimiliki zoo juga menjadi “harta berharga” yang buahnya dialokasikan untuk satwa pemakan buah.
Meski harus dibeli dari luar untuk jenis pisang tertentu, setiap pengeluaran kini dilakukan dengan sangat hati-hati agar anggaran yang tersisa tidak segera habis tersapu angin.
Upaya ini menunjukkan dedikasi karyawan untuk memastikan 711 satwa Bandung Zoo bertahan hidup dari ikhtiar mereka.
Komitmen Suci Kesejahteraan Satwa di Atas Gaji
Dalam keterbatasan yang semakin mencekik, manajemen Bandung Zoo dan seluruh karyawan tetap memegang satu prinsip suci: kesejahteraan satwa tidak boleh dikorbankan.
Seluruh karyawan telah menyatakan komitmennya untuk terus merawat satwa sesuai standar terbaik, meskipun sebagian dari mereka terpaksa hidup dari tabungan yang kian menipis tanpa kepastian gaji.
Ini adalah perjuangan kemanusiaan dan konservasi yang tak hanya mengandalkan rasio, tetapi juga hati.
Maka, setiap Jumat, doa terus dipanjatkan. Di antara pepohonan ratusan tahun yang seakan ikut berzikir, suara mereka naik perlahan, memohon agar pertolongan—baik dari donasi publik maupun mukjizat—segera datang untuk mengangkat kabut suram yang menyelimuti nasib 711 jiwa satwa kebanggaan Indonesia.





