BANGKOK, WWW.PASJABAR.COM – Kabar pahit datang dari arena sepak bola SEA Games 2025 Thailand. Langkah Timnas Indonesia U-22 harus terhenti lebih awal setelah gagal melaju dari fase grup. Kegagalan ini memicu reaksi keras dari Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, yang menyebut performa skuad Garuda Muda kali ini sebagai hasil yang paling tidak masuk akal dalam sejarah partisipasinya di ajang multievent tersebut.
Kekecewaan ini bukan tanpa alasan. Timnas U-22 tahun ini dianggap memiliki segalanya untuk meraih emas: mulai dari persiapan yang matang, fasilitas kelas satu, hingga kehadiran pemain diaspora yang menambah kemewahan materi pemain.
Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dengan ekspektasi besar publik.
Persiapan Matang dan Lawan Uji Coba Berkualitas, Hasil Timnas U-22 di SEA Games Tidak Masuk Akal
Sumardji mengungkapkan bahwa dari sisi manajemen, BTN telah memberikan dukungan total.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, persiapan kali ini dinilai jauh lebih terukur dengan agenda uji coba melawan tim-tim kuat seperti India dan Mali.
Federasi bahkan rela mengorbankan agenda Timnas Senior di kalender FIFA November demi fokus penuh pada skuad asuhan Indra Sjafri.
“Kalau ditanya sebenarnya apa? Saya jujur saja, bawa tim paling sulit, paling susah, dan menurut saya yang paling tidak masuk akal, ya baru kali ini di SEA Games ini,” ujar Sumardji dengan nada blak-blakan.
Ia menegaskan bahwa fasilitas di Chiangmai, mulai dari hotel hingga lapangan, sudah dipersiapkan dengan kualitas terbaik agar pemain bisa fokus bertanding.
Skuad Mewah dengan Pemain Diaspora Tak Berdaya
Salah satu faktor yang membuat Sumardji Kecewa Timnas Indonesia SEA Games 2025 adalah kualitas individu pemain yang dibawa.
Pada edisi 2023 di Kamboja, Indonesia berhasil meraih emas tanpa pemain diaspora. Tahun ini, dengan tambahan tenaga pemain yang merumput di luar negeri, harapan untuk mempertahankan gelar juara seharusnya sangat tinggi.
Namun, kehadiran pemain-pemain tersebut tidak mampu menyelamatkan Indonesia dari kekalahan mengejutkan. Kekalahan dari Filipina di laga pembuka menjadi tamparan keras.
“Saya sudah terbiasa bawa tim, kalau di Asia Tenggara saya belum pernah kalah lawan Filipina. Makanya ketika lihat hasilnya, saya bingung juga. Saya terkaget-kaget, memang menurut saya ini aneh,” tambah Sumardji.
Statistik Tak Memihak dan Hilangnya Keberuntungan
Ketua BTN juga menyoroti statistik pertandingan yang dianggap tidak mencerminkan kualitas asli tim.
Saat melawan Myanmar, Indonesia memang berhasil menang, namun performanya jauh dari meyakinkan.
Indonesia justru kebobolan terlebih dahulu, padahal di atas kertas mereka diprediksi bisa mencetak banyak gol tanpa kebobolan (clean sheet).
Menurut Sumardji, ada faktor “keberuntungan” yang tidak berpihak pada Indonesia kali ini.
Meski dominan dalam penguasaan bola di beberapa momen, efektivitas di depan gawang dan koordinasi pertahanan menjadi titik lemah yang fatal.
Hasil buruk satu kemenangan dan satu kekalahan di fase grup akhirnya memaksa tim paling diunggulkan ini pulang lebih cepat.
Hasil Timnas U-22 di SEA Games Tidak Masuk Akal, jadi Tanggung Jawab Kolektif dan Evaluasi Tim Pelatih
Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji mengaku tidak ingin menyalahkan individu tertentu, termasuk Wakil Ketua Umum PSSI I Zainudin Amali, sehubungan kegagalan Timnas U22 Indonesia di SEA Games 2025 Thailand.
Menanggapi tudingan publik terhadap individu tertentu di federasi, Sumardji menegaskan bahwa kegagalan ini adalah tanggung jawab kolektif.
Ia enggan menyalahkan satu personil saja dan menekankan bahwa secara teknis, performa tim adalah tanggung jawab penuh tim kepelatihan di bawah komando Indra Sjafri.
“Ini adalah tanggung jawab kami bersama, terutama berkaitan dengan SEA Games ini kan tanggung jawab BTN,” tutup Sumardji.
Evaluasi total dipastikan akan dilakukan untuk membedah mengapa tim dengan materi pemain “mewah” dan persiapan paling matang ini justru mencatatkan hasil yang dianggap paling buruk dan tidak masuk akal.




