BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk melakukan Pembongkaran Teras Cihampelas.
Ikon wisata belanja yang dibangun di era kepemimpinan Ridwan Kamil tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan, dan justru memberikan dampak negatif bagi tata ruang serta perekonomian di kawasan legendaris Cihampelas.
Dukungan ini disampaikan Dedi Mulyadi merespons rencana Pemkot Bandung yang menganggap proyek skywalk tersebut gagal memenuhi tujuannya sebagai pusat daya tarik baru.
Gubernur menegaskan bahwa keputusan untuk meratakan kembali kawasan tersebut sudah selayaknya dilakukan demi kenyamanan masyarakat luas dan fungsionalitas jalan.
Dedi Mulyadi Dukung Pembongkaran Teras Cihampelas, Sebut Estetika Buruk
Salah satu poin utama yang disoroti oleh Gubernur adalah masalah keindahan kota.
Dedi Mulyadi Dukung Pembongkaran Teras Cihampelas karena menganggap estetika bangunan tersebut sangat buruk dan tidak menyatu dengan lingkungan sekitar.
Kehadiran struktur besi yang masif di atas jalan raya justru menciptakan kesan kumuh dan gelap di area bawahnya.
“Estetika Teras Cihampelas itu menurut saya sangat buruk. Tiang-tiang besi di sepanjang jalan itu mengganggu kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke area Cihampelas,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa kenyamanan pejalan kaki di trotoar asli justru terenggut oleh bayang-bayang struktur besar yang ada di atas mereka, yang kini kondisinya juga mulai memprihatinkan karena kurangnya perawatan.
Dampak Ekonomi: Menghambat Perputaran Uang Pedagang
Selain faktor keindahan, alasan ekonomi menjadi pertimbangan krusial dalam keputusan ini.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat ternyata sudah sejak lama menyampaikan saran kepada Walikota Bandung agar segera mengevaluasi keberadaan Teras Cihampelas.
Struktur tersebut dinilai menghambat perputaran ekonomi para pedagang dan pengusaha yang berada di ruko-ruko sepanjang Jalan Cihampelas.
Kehadiran skywalk dianggap memutus pandangan calon pembeli ke toko-toko yang berada di lantai dasar.
Di sisi lain, para pedagang yang direlokasi ke atas Teras Cihampelas juga tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.
Bukannya menjadi pusat keramaian baru, area tersebut justru lebih sering terlihat lengang dan tidak mampu menarik minat belanja wisatawan secara konsisten.
Kilas Balik 8 Tahun Teras Cihampelas yang Sepi
Teras Cihampelas diresmikan oleh Ridwan Kamil sekitar delapan tahun yang lalu sebagai solusi untuk menata Pedagang Kaki Lima (PKL) sekaligus menambah ruang terbuka publik di Kota Bandung.
Namun, seiring berjalannya waktu, tempat ini dianggap tidak layak lagi dijadikan destinasi wisata belanja unggulan.
Kurangnya minat pengunjung membuat kawasan ini selalu sepi, sehingga fasilitas yang ada di atasnya menjadi terbengkalai.
Pemkot Bandung melihat bahwa biaya perawatan yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Setelah melalui kajian panjang, pembongkaran menjadi opsi paling logis dibandingkan terus mempertahankan struktur yang fungsionalitasnya telah mati suri.
Langkah Strategis Pemkot Bandung dan Dukungan Pemprov Terhadap Pembongkaran Teras Cihampelas
Rencana pembongkaran ini menjadi bagian dari penataan ulang kawasan Cihampelas agar kembali ke kejayaannya sebagai destinasi belanja pakaian ternama di Indonesia.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Pemprov Jabar akan mengawal proses ini agar sinkron dengan rencana pembangunan wilayah di Jawa Barat secara umum.
Dukungan penuh dari Dedi Mulyadi diharapkan dapat mempercepat proses eksekusi lapangan.
Dengan dibongkarnya struktur tersebut, diharapkan pandangan di Jalan Cihampelas kembali terbuka luas, sirkulasi udara lebih baik, dan geliat ekonomi pedagang lokal kembali pulih tanpa terhalang oleh konstruksi besi yang selama ini dianggap sebagai beban estetika kota.







