WWW.PASJABAR.COM – Sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan kedokteran unggul di Jawa Barat, Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), dan Universitas Kristen Maranatha meluncurkan kolaborasi strategis percepatan pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (Sp1) dan Subspesialis (Sp2).
Peluncuran digelar di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Rabu (18/2/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek RI, Khairul Munadi, menyebut peluncuran ini sebagai tonggak penting penguatan Sistem Kesehatan Akademik (SKA) di Jawa Barat.
“Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan dan layanan kesehatan. Dengan sinergi yang kuat, SKA Jawa Barat diharapkan menjadi model praktik baik di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, akselerasi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) harus tetap berpegang pada prinsip penjaminan mutu, kepatuhan regulasi, serta evaluasi berkala agar perluasan akses tidak mengorbankan kualitas.
Dukungan pemerintah daerah, termasuk dalam bentuk beasiswa dan insentif pendidikan, dinilai penting untuk memastikan pemerataan layanan kesehatan.
Delapan Prodi Baru Perkuat Ekosistem Pendidikan Spesialis
Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menyampaikan bahwa percepatan ini merupakan bagian dari agenda strategis penguatan SDM nasional. Menurutnya, kolaborasi PTN dan PTS menjadi model sinergi dalam memastikan ketersediaan dokter spesialis yang bermutu dan merata.
“Kami berkomitmen menjaga standar nasional pendidikan tinggi, menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama, serta membangun sistem penjaminan mutu terpadu. Ini adalah kontribusi nyata pendidikan tinggi dalam memenuhi kebutuhan dokter spesialis nasional,” jelasnya.
Dalam program ini akan dibuka delapan prodi baru, terdiri dari empat Sp1 dan empat Sp2. Unpad membuka lima prodi baru, sementara Unisba dan Maranatha membuka Sp1 Obstetri & Ginekologi, serta Unjani membuka Sp1 Anestesiologi & Terapi Intensif.
Kolaborasi ini diharapkan mempercepat lahirnya dokter spesialis yang kompeten demi memperkuat ketahanan kesehatan bangsa. (*)







