TURIN, WWW.PASJABAR.COM — Allianz Stadium menjadi saksi bisu runtuhnya keperkasaan Juventus saat menjamu tim promosi ambisius, Como, dalam lanjutan Serie A 2025/2026 pada Sabtu malam, 21 Februari 2026.
Alih-alih bangkit dari tren negatif, “Si Nyonya Tua” justru harus menelan pil pahit setelah dikalahkan dengan skor mencolok 0-2.
Kekalahan ini tidak hanya mempermalukan tim di hadapan pendukung sendiri, tetapi juga mempertegas krisis performa yang sedang melanda skuad asuhan Luciano Spalletti.
Mergim Vojvoda dan Maxence Caqueret Jadi Mimpi Buruk
Pertandingan baru berjalan 11 menit ketika pendukung tuan rumah terbungkam. Mergim Vojvoda berhasil memanfaatkan celah di lini pertahanan Juventus yang dikawal Federico Gatti dan Lloyd Kelly untuk membawa Como unggul 1-0.
Gol cepat ini merusak rencana permainan Juventus yang tampak gugup sejak peluit pertama dibunyikan.
Memasuki babak kedua, Juventus mencoba meningkatkan intensitas serangan melalui pergerakan Kenan Yildiz dan Lois Openda.
Namun, alur serangan yang monoton mudah dipatahkan oleh barisan pertahanan Como yang dipimpin oleh Marc-Oliver Kempf.
Petaka bagi tuan rumah kembali hadir pada menit ke-61 saat gelandang kreatif Maxence Caqueret mencetak gol kedua bagi Como.
Gol tersebut praktis mengakhiri perlawanan Juventus dan memastikan tiga poin bersejarah bagi klub milik pengusaha Indonesia tersebut.
Tren Negatif: Empat Kekalahan dalam Lima Laga
Kekalahan dari Como memperpanjang catatan kelam Juventus musim ini. Mereka tercatat menderita empat kekalahan dalam lima pertandingan terakhir di seluruh kompetisi.
Satu-satunya hasil yang bisa dibilang ‘lumayan’ dalam periode suram ini hanyalah hasil imbang saat melawan Lazio.
Penurunan performa yang drastis ini telah memakan korban; Juventus sudah resmi tersingkir dari ajang Coppa Italia.
Kondisi ini diperparah dengan situasi mereka di kompetisi Eropa. Juventus kini terancam kandas di fase play-off Liga Champions, sebuah posisi yang sangat tidak biasa bagi klub pemegang gelar Scudetto terbanyak tersebut.
Ketidakkonsistenan taktik Luciano Spalletti mulai dipertanyakan oleh para pengamat bola di Italia, terutama dalam mengoptimalkan peran pemain seperti Teun Koopmeiners dan Manuel Locatelli di lini tengah.
Ancaman dari Papan Tengah dan Menjauhnya Zona UCL
Secara klasemen, Juventus kini dalam posisi yang sangat rentan. Mereka tertahan di urutan kelima dengan koleksi 46 poin.
Harapan untuk kembali berkompetisi di Liga Champions musim depan melalui jalur empat besar kian menipis karena jarak poin dengan tim-tim di atasnya semakin melebar.
Ironisnya, alih-alih mengejar tim di posisi empat besar, Juventus justru kini terancam oleh Como sendiri.
Kemenangan ini membuat Como merangkak naik dan hanya tertinggal satu poin di belakang Juventus.
Jika performa Si Nyonya Tua tidak segera membaik, bukan tidak mungkin mereka akan terlempar ke posisi yang lebih rendah dan kehilangan status sebagai tim elit Italia musim ini.
Ujian Berat Menanti Melawan AS Roma
Waktu bagi Luciano Spalletti untuk berbenah sangatlah sempit. Juventus dijadwalkan akan melakoni laga tandang yang sangat berat melawan AS Roma pada Senin, 2 Maret 2026.
Laga tersebut akan menjadi ujian karakter bagi para pemain Juventus untuk membuktikan apakah mereka masih memiliki mentalitas juara atau justru semakin tenggelam dalam krisis.
Sementara itu, Como yang sedang dalam kepercayaan diri tinggi akan bersua Lecce pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Kemenangan atas Juventus menjadi modal berharga bagi tim asuhan Cesc Fabregas tersebut untuk terus merangsek ke papan atas dan mencetak sejarah baru di Serie A.







