# perang AS Israel Iran
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Iran lanjutkan serangan ke negara teluk, mereka menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Kawasan tersebut. Dan salah satu pangkalan USA terbanyak ada di Uni Emirat Arab (UEA).
Menghadapai serangan tersebut Presiden Mohamed bin Zayed Al Nahyan menegaskan Uni Emirat Arab (UEA) siap menghadapi berbagai ancaman keamanan.
Pernyataan itu disampaikan Sheikh Mohamed saat mengunjungi korban luka di sebuah rumah sakit di Abu Dhabi, Sabtu (7/3/2026) lalu.
Ia menyebut negaranya sedang berada dalam situasi perang namun tetap siap menghadapi serangan yang terus terjadi.
“UEA memiliki ketahanan yang kuat, kami bukan sasaran yang mudah,” ujar Sheikh Mohamed dalam pernyataan yang disiarkan televisi Abu Dhabi.
Serangan Iran ke Negara Teluk
Konflik yang dipicu serangan besar AS dan Israel ke Iran kini memasuki minggu kedua. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Negara-negara yang terdampak antara lain anggota Gulf Cooperation Council seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman dan UEA.
Kementerian Pertahanan UEA menyebut negaranya menjadi target paling besar dalam konflik tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, wilayah UEA dilaporkan diserang 16 rudal balistik dan lebih dari 120 drone.
Serangan tersebut bahkan berdampak pada sejumlah lokasi penting seperti bandara Abu Dhabi, kawasan wisata Palm Jumeirah, hingga hotel mewah Burj Al Arab di Dubai. Sebuah objek tak dikenal juga sempat dicegat di dekat Bandara Dubai sehingga operasi penerbangan dihentikan sementara.
Selain itu, puing proyektil yang berhasil dicegat dilaporkan menewaskan seorang pengemudi kendaraan sipil di Dubai.
Iran Sampaikan Pesan Berbeda
Di tengah serangan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga karena wilayah mereka ikut terkena dampak serangan Iran.
Namun pernyataan itu langsung dikontradiksi oleh Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei yang menegaskan serangan berat akan terus dilakukan terhadap wilayah yang dianggap digunakan oleh musuh Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan Iran siap meredakan ketegangan, namun hanya jika negara-negara tetangga tidak mengizinkan wilayah udara atau pangkalan militernya digunakan untuk menyerang Iran.
Target Infrastruktur dan Pangkalan AS
Serangan terbaru Iran juga menyasar pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang pangkalan udara di Bahrain sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas penyulingan air di Pulau Qeshm.
Serangan terhadap instalasi air tersebut dinilai sangat berbahaya bagi kawasan Teluk yang sebagian besar pasokan airnya bergantung pada fasilitas desalinasi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan meningkatkan serangan terhadap Iran jika konflik terus berlanjut. Ia bahkan mengklaim pasukan AS telah menenggelamkan puluhan kapal angkatan laut Iran dalam tiga hari terakhir.
Sementara itu, militer Israel juga melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran dan Isfahan dengan lebih dari 80 jet tempur yang menargetkan fasilitas militer, peluncur rudal balistik, serta gudang persenjataan Iran.
Iran Siapkan Pemimpin Tertinggi Baru
Di tengah perang yang terus meningkat, Majelis Ahli Iran dilaporkan akan menggelar pertemuan dalam 24 jam untuk memilih pemimpin tertinggi baru negara tersebut.
Situasi ini menunjukkan konflik antara Iran dengan blok AS–Israel berpotensi semakin meluas dan berdampak besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah serta pasokan energi dunia. (*)
# perang AS Israel Iran







