TEHERAN, WWW.PASJABAR.COM – Republik Islam Iran memasuki babak baru dalam konfrontasinya dengan blok Barat dan Israel. Pada Senin (9/3/2026), Iran meluncurkan gelombang serangan rudal besar-besaran ke wilayah Israel, hanya sesaat setelah pengumuman resmi pengangkatan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran.
Serangan Pertama di Bawah Komando Baru
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, menyiarkan secara langsung momen peluncuran proyektil-proyektil yang diarahkan ke pusat-pusat kota di Israel, termasuk Tel Aviv dan Haifa.
Di saluran Telegram resminya, IRIB mengunggah gambar rudal-rudal yang dibubuhi slogan keagamaan “At Your Command, Sayyid Mojtaba”.
Di pihak lawan, Militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa sirene peringatan udara meraung-raung di sebagian besar wilayah utara dan tengah negara itu.
Serangan ini merupakan respons militer perdana Iran sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Proses Suksesi di Tengah Perang
Majelis Pakar Iran mengumumkan terpilihnya Mojtaba, yang merupakan putra kedua mendiang Ali Khamenei, setelah melalui sesi luar biasa yang mendesak.
Mojtaba, pria kelahiran 1969, dikenal sebagai veteran Perang Iran-Irak dan ulama yang menempuh pendidikan teologi di Qom.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memuji kelancaran transisi ini meskipun Iran terus dihujani serangan udara.
“Pemilihan ini berlangsung tepat waktu dan tertib, mematahkan harapan musuh yang menginginkan terjadinya kebuntuan politik di Iran,” tegas Larijani.
Reaksi Keras Donald Trump dan Israel
Penunjukan Mojtaba memicu ketegangan diplomatik tingkat tinggi. Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menolak kepemimpinan Mojtaba dan menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran.
Trump bahkan memperingatkan bahwa Mojtaba tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Di sisi lain, Israel melalui media sosial resmi IDF mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap setiap calon pengganti di kepemimpinan Iran.
“Negara Israel akan terus mengejar setiap orang yang berupaya menunjuk pengganti. Kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda,” tulis pernyataan tersebut.
Menanggapi tekanan internasional, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa penunjukan Pemimpin Tertinggi adalah urusan domestik mutlak Iran.
Ia juga menuntut Trump untuk meminta maaf atas eskalasi perang yang semakin memburuk di kawasan Timur Tengah.







